Senin, 23 Oktober 2017

Wisata Religi; Jejak Laksamana Cheng Ho di Kota Makassar

4 bulan yang lalu | 5:49 am
Wisata Religi; Jejak Laksamana Cheng Ho di Kota Makassar

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (17/6/2017) – Saat salawat mulai berkumandang, gerbang masjid Muhammad Cheng Ho mulai ramai dengan kendaraan yang mencari tempat parkir. Puluhan kendaraan roda empat dan roda dua memadati area parkir di sekitar masjid. Meski area parkir yang tersedia cukup luas, yakni mencakup halaman depan, belakang, hingga samping masjid.

Hari ini ruang masjid penuh dengan kaum laki-laki yang datang untuk menunaikan ibadah Salat Jumat. Bahkan beberapa shaf mulai dibentuk di luar gedung masjid yang terletak di jalan Tun Abdul Razak kabupaten Gowa ini. Masjid Muhammad Cheng Ho dibangun oleh komunitas muslim Tionghoa yang berada di Makassar.

Masjid yang berdiri di area seluas 3.600 meter persegi ini berdiri pada 2011 menyimpan jejak perjalanan dakwah yang disebarkan oleh seorang pendakwa dari negeri Tiongkok, Laksamana Cheng Ho. Menurut sejarah, Laksamana Cheng Ho yang memeluk Islam melakukan perjalanan dakwah bersama lebih dari 200 armada kapal. Dalam perjalanannya sang Pendakwah dari negeri Tiongkok ini ditemani oleh sekitar 30.000 awak kapal.

Kini, jejak itu masih tersimpan dalam masjid yang berdiri di tahun 2011 ini. Gambaran kebudayaan negeri Tiongkok terlihat jelas pada kubah masjid dengan atap bertumpuk-tumpuk. Bentuk serupa kuil-kuil Buddha dengan atap pagoda di Tiongkok. Ciri khas lain adalah warna merah yang berpadu dengan warna hijau dan putih pada bangunan masjid.

Bagi warga Tionghoa, warna merah yang disebut hong adalah simbol kegembiraan yang menjanjikan sinar kecerahan dalam hidup. Semua simbol yang lekat dengan masyarakat Tionghoa ini lebur bersama nuansa religius. Di antaranya simbol bintang segi delapan yang digunakan dalam beberapa arsitektur Islam dan menjadi pandangan hidup masyarakat Tionghoa.

Ketua pembangunan masjid Muhammad Cheng Ho, Suhardi, mengatakan masjid memiliki luas bangunan 20×20 meter persegi. Meski tak tampak mencolok, bangunan masjid yang berbentuk persegi empat melambangkan Sula Appa Wala Suji. “Yakni pandangan hidup yang senantiasa dipegang oleh masyarakat Bugis-Makassar,” kata Suhardi.

Suhardi menambahkan, tak seperti masjid lain, masjid Muhammad Cheng Ho dapat diakses selama 24 jam penuh. “Masjid tak pernah kami kunci agar bisa diakses bagi siapa saja yang ingin melakukan ibadah,” kata Suhardi


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com