Jum'at, 24 November 2017

Walikota : Kita Membutuhkan Struktur Fisik

1 tahun yang lalu | 1:40 pm
Walikota : Kita Membutuhkan Struktur Fisik

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (20/9/2016) – Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto membahas smart city infrastructure bersama sejumlah investor asal Perancis di Menara Sentraya Blok M, Selasa, 20 September 2016. Pertemuan itu untuk menindaklanjuti kegiatan bersama Engie Ineo yang berlangsung sejak Februari 2016 lalu.

Diketahui Engie Ineo merupakan salah satu perusahaan terbesar di Perancis yang bergerak di bidang rekayasa listrik, informasi dan sistem komunikasi pada Februari 2016 lalu sepakat bekerjasama dengan Pemerintah kota (Pemkot) Makassar. Nota kesepahaman antara keduanya ditandatangani oleh Wali Kota Makassar Danny Pomanto dan General Manager Engie Ineo, Gaetan Texier.

Pertemuan antara Walikota Danny Pomanto bersama sejumlah investor Perancis diinisiasi oleh Engie Ineo. Mereka membahas smart city infrastructure, tata perkotaan dan penanggulangan bencana demi mewujudkan Makassar menjadi kota dunia yang dua kali tambah baik.

“Perancis dikenal sebagai negara yang memiliki infrastruktur smart city, tata kota, dan mitigasi bencana berbasis teknologi. Setelah sukses membangun kesepahaman kerja sama dengan Engie Ineo, Pemkot mencoba menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan asal Perancis lainnya,” papar Danny.

Lewat pertemuan itu, Wali Kota Danny memaparkan sejumlah perencanaan pembangunan infrastruktur dan tata kota di Makassar, pengembangan Smart City dengan menambah jumlah CCTV di beberapa titik strategis kota yang terhubung dengan war room juga disampaikan dalam pertemuan itu.

Saat menyinggung penanggulangan bencana, Wali Kota Danny menyampaikan model ataupun strategi yang digunakan haruslah memperhitungkan faktor bahaya, kerentanan, dan kapasitas yang didasarkan pada karakteristik kondisi fisik Makassar yang dikenal sebagai water front city.

Makassar salah satu kota pesisir yang ada di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 32 km yang mencakup 11 pulau – pulau kecil dengan luas keseluruhan mencapai 122.370 Ha atau sekitar 1,1% dari luas wilayah daratannya. “Resiko penyempitan dan potensi terkena dampak kenaikan muka air laut harus diperhitungkan,” sebut Danny.

Ancaman yang paling nyata menurutnya tingkat abrasi yang cukup tinggi di beberapa kawasan pesisir yang ditandai dengan kemunduran garis pantai dari tahun ke tahun yang disebabkan beberapa faktor seperti pengaruh gelombang yang terjadi di perairan pantai, pengaruh angin lokal, adanya pasang surut air laut serta adanya arus susur pantai di sekitar wilayah pesisir.

“Kita membutuhkan struktur fisik peredam gelombang baik struktur buatan atau bangunan dan hutan mangrove sebagai pelindung fisik pantai,” urai Danny.

Ia mencontohkan pada daerah Tanjung hingga Pantai Losari mengalami sedimentasi yang cukup tinggi diakibatkan adanya pengendapan sedimen yang terbawa oleh arus sungai pada daerah muara Sungai Jeneberang serta adanya arus laut pada muarasungai yang mengakibatkan tejadinya pengendapan sedimen dalam volume yang cukup besar.

Meskipun belum pada kondisi yang membahayakan keselamatan warga setempat, namun bila hal itu dibiarkan berlangsung, dikhawatirkan dapat menghambat pengembangan potensi kelautan dan potensi wisata yang ada di kawasan pesisir.

Pertemuan dengan sejumlah investor asal Perancis diharapkan Wali Kota Danny dapat membuka peluang kerja sama untuk menjawab kebutuhan Makassar di bidang smart city infrastructure, penataan kota, dan penanggulangan bencana untuk mewujudkan Makassar kota dunia yang nyaman untuk semua.


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com