Selasa, 18 Juni 2019

Uniknya Masjid Arab Berusia 112 Tahun di Kawasan Pecinan Makkasar

3 minggu yang lalu | 2:38 am
Uniknya Masjid Arab Berusia 112 Tahun di Kawasan Pecinan Makkasar

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (25/5/2019) – Di tengah kawasan China Town atau Pecinan Makassar, terdapat sebuah Masjid As Said yang lebih dikenal dengan nama Masjid Arab, yang usianya mencapai 112 tahun. Dijuluki Masjid Arab karena masjid yang terletak di Jalan Lombok ini didirikan pada tahun 1907 oleh komunitas pedagang Arab dari Hadramaut, Yaman.

Imam Masjid Arab, Habib Alwi Bafagih yang berbincang dengan IDN Times, Kamis (23/5), menyebutkan kawasan Pecinan saat ini dulunya adalah kawasan pusat perdagangan yang dekat dengan Pelabuhan Makassar dan dikunjungi pedagang asing dari berbagai negara, seperti Arab, India, dan Tiongkok.

“Pendiri masjid ini berasal dari Arab, pedagang dari Hadramaut yang datang di Makassar pada tahun 1800-an, atau fase ketiga setelah periode Wali Songo. Selain menyebarkan agama Islam, mereka juga berdagang dan bermukim di Makassar,” tutur Habib Alwi.

Lokasi Masjid Arab berada di tengah-tengah pemukiman warga etnis Tionghoa ini. Di sekitarnya terdapat beberapa bangunan klenteng, yang juga usianya lebih 1 abad. Di sekitar masjid ini juga kawasan yang dipadati restoran ‘Chinese food’ dan pasar khusus warga Tionghoa, atau dikenal di Makassar dengan nama “Pasara Cinayya”.

Menurut Habib Alwi, warga Muslim dan etnis Tionghoa di sekitar Masjid Arab hidup berdampingan secara akur dan harmonis, sejak zaman dahulu. Masjid ini juga kerap dikunjungi jamaah dari daerah lainnya.

“Dari dulu kita menjunjung nilai toleransi di kawasan masjid ini, sesuai anjuran Islam kita harus menjadi rahmat untuk alam semesta,” jelas Habib Alwi.

Perbedaan masjid ini dengan masjid lainnya di Makassar, tempat ibadah ini dikhususkan bagi jamaah pria. Meski tidak ada larangan langsung dari pengurus masjid, sejak didirikan Masjid Arab hingga saat ini, jamaah perempuan sangat jarang dijumpai berada di lingkungan masjid ini.

“Tidak ada larangan bagi kaum wanita untuk beribadah di sini, akan tetapi tradisi masjid ini dari pendahulu kami, seperti di masjid-masjid yang ada di Timur Tengah, hanya dikhususkan tempat ibadah kaum pria saja, kalau ada jamaah wanita yang musafir silakan kami tidak melarangnya salat karena mungkin mereka belum tahu,” ujar Habib Alwi.

Habib Alwi mengatakan, bangunan masjid berbentuk persegi empat, hanya memiliki satu lantai dengan proporsi tinggi plafon yang sangat lapang, khas arsitektur masjid di Timur Tengah. Terdapat 4 pilar penyangga di dalam masjid, yang disimbolkan Khulafaurrasyidin atau empat khalifah sepeninggal Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan kubah masjid terinspirasi dari Masjid Demak, khas masjid-masjid Nusantara. Di samping menara masjid, terdapat pohon kurma yang jarang dijumpai tumbuh di Indonesia.

“Masjid ini memadukan arsitektur Arab dan kubahnya seperti kubah Masjid Demak di Jawa, sejak didirikan masjid ini sudah beberapa kali direnovasi, tapi tidak mengubah bentuk awalnya,” pungkas Habib Alwi yang merupakan imam ke-12 di Masjid Arab.


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com