Jum'at, 28 Juli 2017

Timang-Timang, Mas Agus Yudhoyono Sayang…

10 bulan yang lalu | 4:20 am
Timang-Timang, Mas Agus Yudhoyono Sayang…

Baca Juga

Penulis : Rahmad M Arsyad 

Jejaring sosial, segera bergejolak pascapengumuman calon gubernur Jakarta pilihan koalisi Demokrat, PPP, PAN, dan PKB. Akhirnya calon ‘pilihan langit’, sebagaimana kata Muhamaimin Iskandar benar-benar menyajikan ‘kejutan’ dan sebentar lagi akan berlanjut dengan sikap terbelah publik yang menurut hemat saya akan terbagi dalam tiga poros sebagaimana layaknya kemungkinan besar tiga pasangan cagub dan cawagub Jakarta, mereka yang menyayangkan, memuji, dan yang akan membully.

Mereka yang membully, sudah bisa ditebak akan memberikan berbagai komentar soal ambisi politik dinasti keluarga SBY. Kelompok kedua, adalah mereka yang sekedar menyayangkan mengapa harus Mas Agus? bukankah karir militernya masih panjang, apakah SBY tidak sayang akan karir putra sulungnya itu?

Ketiga, mereka yang akan memuji tentang mas agus ganteng, tidak sombong, dan baik hati, seperti layaknya istri saya yang sejak beberapa tahun lalu menjadi pengikut setia instagram Agus Yudhoyono, lalu berhayal suaminya ini, setampan Mas Agus namun lupa dirinya tidaklah secantik Annisa Pohan… hehe

Menyaksikan arena Pilkada Jakarta kali ini, memang layaknya menyaksikan ajang prestisius drama Piala Eropa. Siapa yang menang, sudah pasti dijagokan menjuarai Piala Dunia, walau kemungkinan kans juara dari benua lain juga sama besarnya untuk tampil menjadi pemenangan Piala Dunia.

Karena politik dan sepak bola, memang memiliki daya tarik yang sama, yakni soal ‘kemungkinan’! Lantas, apakah SBY tidak memperhitungkan konsekuensi yang akan terjadi pasca melepas Agus? Patut diingat, Susilo Bambang Yudhoyono adalah Presiden dua priode, dan SBY bukanlah ‘orang baru’ dalam politik yang lebih mementingkan emosi dibandingkan berbagai pertimbangan matang.

Timang-timang, Mas Agus Sayang

Seorang kawan, lewat WhatsApp menanyakan kepada saya, akan peluang pasangan Agus Yudhoyono-Silviyana? Apalagi harus menghadapi lawan berat kandidat petahana Ahok- Jarot dan kemungkinan Sandiaga uno – Anies Baswedan, atau Anis-Sandiaga uno?

Saya lalu menjelaskan kepada kawan itu, dalam empat pendekatan. Pertama, jika mengacu pada pertimbangan popularitas bagi saya tiga pasang calon apalagi jika benar akhirnya Sandiaga Uno memilih Anis Baswedan sebagai pasangan, maka saya dengan percaya diri berani menjamin popularitas ketiganya akan cenderung sama.

Trah Yudhoyono tak dapat dipungkiri dikenal baik oleh pemilih Jakarta, hal itu akan sangat mendongkrak popularitas (tingkat keterkenalan) pasangan Agus-Silviyana, demikian pula sosok Anis Baswedan yang juga cukup dikenal oleh publik, apalagi Ahok-Jarot yang memang kandidat petahana.

Namum pertanyaan kedua, bagaimana dengan elektabilitas dua pasangan penantang tersebut? Jika mengacu pada trend elektabilitas yang ada, memang pasca tidak bergabungnya koalisi Gerindra-PKS, maka persaingan akan berlangsung sangat ketat dan cenderung menguntungkan petahana karena polarisasi politik akan terbagi dua, dimana frame pemilih yang mengharapkan perubahan akan kepemimpinan Jakarta akan terbagi atas dua kemungkinan pilihan, yakni poros Gerindra dan poros Demokrat, Anis Baswedan atau Agus Yudhoyono.

Ketiga, dan ini faktor yang juga menentukan menurut saya dalam pilgub DKI kali ini, adalah faktor likeability (kesukaan). Siapakah yang mampu di antara kedua kandidat penantang tersebut dalam mempengaruhi simpati pemilih Jakarta? Di sinilah arena pertarungan yang sebenarnya? Pada titik ini, berdasarkan pengalaman saya dibutuhkan kepiawaian untuk membangun differensiasi (perbedaan) dari masing-masing figur penantang atas petahana.

Sederhananya, jika Ahok disukai oleh pemilihnya karena sosoknya yang dipandang sebagai pemimpin yang tegas, berani, dan jujur. Maka, apa yang akan ditonjolkan oleh Agus-Silviyana demikian pula Sandiaga Uno – Anies? Inilah pertanyaan penting yang harus segera dirumuskan oleh para tim pemenangan mereka dalam membentuk differensiasi dari masing-masing kandidat dalam membangun kesukaan pemilih dan akhirnya menaikkan keterpilihan mereka.

Karena, jika mengacu pada pemilihan gubernur Jakarta yang lalu, faktor likeability pasangan Jokowi-Ahok dalam posisi sebagai penantang, adalah kunci kemenangan mereka ketika melawan Fauzi Wibowo-Nara. Lewat ikon ‘Jakarta Baru’ dan penonjolan Jokowi sebagai sosok pemimpin pekerja yang dekat dengan rakyat lewat blusukannya,adalah kunci yang mendorong gelombang simpati pemilih.

Keempat, faktor identitas etnik. Suka tidak suka, faktor identitas etnik ini sedikit banyaknya akan mempengaruhi alasan keterpilihan seseorang dalam arena pilkada. Kemenangan Jokowi sebagai gubernur Jakarta bahkan sampai pada Presiden dalam hemat saya, juga diuntungkan oleh posisinya sebagai bagian dari etnik Jawa dan keberhasilanya merangkul JK sebagai etnis mayoritas dari timur.

Patut dicatat, demografi politik pemilih Jakarta terdiri atas komposisi etnik dimana Jawa sebagai pemilih terbesar 35,16%, Betawi 27,6 %, dan Sunda 15,27%. Peta gambaran demografi ini, memang tidak serta merta merepresentasikan sikap pemilih, namum sekali lagi politik identitas etnik bukanlah hal yang bisa disepelekan dalam mempengaruhi tingkat keterpilihan.

Pasangan penantang beserta tim pemenanganya, harus belajar dari kesalahan petahana Fauzi Wibowo-Nara pada masa lalu yang cenderung menonjolkan politik identitas sebagai kandidat Betawi, dan cenderung menjatuhkan Jokowi-Ahok yang justru memacu gelombang perlawanan sebaliknya. Inilah faktor keuntungan bagi dua pasang penantang melawan Ahok, namun keuntungan ini bisa jadi akan menjadi blunder jika tidak mampu dikonversi dengan baik.

Akhirnya, arena pertarungan pilkada Jakarta kali ini, dengan kemunculan Agus Yudhoyono, mengigatkan saya pada debut kemunculan pertama SBY diawal tahun 2001 yang lalu.

Ketika itu, pada pemilihan Presiden di MPR/DPR, nama SBY muncul sebagai calon wakil presiden mendampingi Mengawati, walau akhirnya kita tahu sejarah mencatat Hamzah Haz yang akhirnya terpilih, namun dari sejarah itu pula kita kemudian paham, tiga tahun kemudian SBY akhirnya menjadi Presiden dan Demokrat tampil menjadi pemenang pemilu di priode kedua SBY menjadi calon Presiden.

Tentu SBY sudah mempertimbangkan semuanya, selamat siang Jakarta!

 


Penulis : ABR
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com