Senin, 21 Agustus 2017

Tim Peneliti KPU Sulteng Ngawur

1 tahun yang lalu | 5:55 am
Tim Peneliti KPU Sulteng  Ngawur

Baca Juga

 

Foto : Acara seminar Laporan Riset tingkat Partisipasi Pemilihan Gubernur                   

Palu, Wartatimur.com – 16 Agustus 2016, bertempat di gedung KPU Provinsi Sulawesi Tengah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Tengah bersama tim ahli peneliti dari beberapa kalangan akademisi Univeritas Tadulako, menggelar acara seminar “Laporan Hasil Riset Tingkat Partisipasi pemilihan gubernur dan wakil gubernur sulawesi tengah tahun 2015”.

Pada acara tersebut, fokus penelitian yang dikaji yakni menganalisis faktor-faktor yang menjadi alasan, mengapa angka partisipasi pemilih pada pemilihan gubernur sulteng pada desember 2015 yang lalu, mengalami penurunan, dimana dari data KPU tingkat partisipasi pemilih di sulteng hanya mencapai 69,71 %.

Rahmad M. Arsyad, mantan direktur riset Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC) yang sejak 14 agustus 2016 yang lalu dilantik menjadi ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Sulawesi Tengah, menyampaikan bahwa hasil riset yang dilakukan oleh KPU dan sejumlah tim peneliti yang berasal dari universitas tadulako, adalah sebuah hasil yang Ngawur dan tidak bisa dipandang sebagai sebuah hasil riset ilmiah.

“Sebagai mantan akademisi dan mantan direktur lembaga riset, saya sangat-sangat menyayangkan sejumlah cacat dalam metode riset yang dipakai oleh Tim ahli KPU apalagi penelitian ini menggunakan uang negara”, ungkap mantan dosen universitas bina nusantara Jakarta ini.

Cacat metodologi yang diungkapkan oleh ketua Bappilu Demokrat sulteng tersebut meliputi, pertama, tim peneliti KPU dalam hasil riset ini mencantumkan bahwa ini merupakan laporan hasil riset tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan gubernur sulteng.

Namun faktanya, populasi dan proporsi sampel yang ditarik hanya di kota palu itupun di 3 kecamatan dan 3 kecamatan di kabupaten donggala.

“Basis sampel kuantitatif, apalagi menyebutkan ini adalah hasil riset untuk skala provinsi harus bisa merepresentasikan proporsi wilayah disetiap kabupaten, keterwakilan jenis kelamin, dan proporsi usia, riset ini jelas tidak mewakili hal tersebut”.

Karena minimal sampel yang ditarik harusnya merepresentasikan setiap kabupaten kota dengan besaran proporsi pemilih disetiap kecamatan. Apalagi representasi pemilih terbesar ditingkatan provinsi sulawesi tengah, bukan di palu atau donggala namun di parigi moutong dan luwuk yang mewakili 15 dan 13 % pemilih.

Kedua, dari pemaparan tim peneliti disampaikan pula bahwa metode dan jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan studi kepustakaan, ini hal yang lebih lucu lagi, dalam penelitian yang berbasis kuantitatif tidak berbasis kualitatif layaknya studi kepustakaan.

Masih banyak faktor lain, yang menurut Rahmad M Arsyad menjadi kesalahan fatal oleh KPU sulteng dan tim ahlinya. “Dunia penelitian itu, adalah dunia yang suci dan penuh dedikasi, jadi sangat disayangkan jika KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu dalam melakukan kajian dan evaluasinya tidak professional, karena akan melahirkan kebijakan yang salah dan bukan memperbaiki kualitas pemilu kita.

Karena dalam dunia penelitian, jika sampah yang masuk maka sampah yang keluar, tutup Rahmad M Arsyad .


Penulis : ABR
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com