Selasa, 17 Oktober 2017

Tari Gandrang Bulo, Jenaka dan Sarat Kritikan Sosial

2 tahun yang lalu | 12:55 pm
Tari Gandrang Bulo, Jenaka dan Sarat Kritikan Sosial

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (8/6/2015) – Tari Gandrang Bulo merupakan salah satu tarian tradisional dari Sulawesi Selatan. Tarian ini biasanya dilaksanakan saat pesta rakyat. Dalam melakukan tarian ini, para penari diharuskan terlihat bahagia.

Tari Gandrang Bulo berasal dari dua kata, yaitu gandrang yang berarti tabuhan atau pukulan, dan bulo yang berarti bambu. Para penari saat memperlihatkan performanya diiringi oleh tabuhan gendang dan suara tabuhan bambu. Tarian ini merupakan simbol keceriaan, lantaran di dalamnya diselipkan berbagai humor yang dapat membuat para penonton tertawa.

Awalnya Tari Gandrang Bulo hanya sekadar tarian yang diiringi oleh gendang. Seiring waktu, tarian ini diiringi pula lagu-lagu jenaka dan dialog-dialog humor namun sarat kritik dan ditambah gerak tubuh yang mengundang tawa. Teriakan penari bukanlah sekedar teriakan, melainkan simbol dari luapan emosi dan semangat yang menggebu-gebu.

Penari membawakan karakter lucu, seperti orang idiot atau orang kampung yang lugu, berhadapan dengan pemeran pejabat atau orang berkuasa yang angkuh. Kritikan yang dimainkan oleh seniman Gandrang Bulo terkadang begitu keras, tetapi dikemas dalam bentuk banyolan segar yang mengundang tawa. Sampai saat ini Tari Gandrang Bulo masih menjadi salah satu icon kesenian Makassar yang sering dipentaskan di beberapa acara.

Pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia, rakyat Sulsel dibuat menderita dengan diberlakukannya kerja paksa. Mereka sering mendapat pukulan, tendangan dan cambuk dari tentara Jepang. Pada saat istirahat, tanpa pengawasan tentara Jepang, para pekerja bermain–main menyanyikan lagu–lagu jenaka sambil melakukan sejumlah adegan lucu yang diambil dari gerakan tentara Jepang.

Sebelum tahun 1960-an Tari Gandrang Bulo dimainkan oleh orang dewasa dengan membuat lingkaran. Mereka menyanyikan lagu jenaka dan gerakan–gerakan lucu yang dimainkan secara bergiliran, dengan instrumen bambu yang berfungsi sebagai alat musik dan properti. Kemudian tarian ini berubah menjadi permainan anak anak. Tarian tersebut berfungsi sebagai hiburan dan untuk menyambut tamu penting negara. (NM)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com