Sabtu, 23 Juni 2018

Tahniah untuk Prof Gufran

4 tahun yang lalu | 4:39 pm
Tahniah untuk Prof Gufran

Baca Juga

Oleh : Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun)

Suatu malam, saya menerima pesan singkat dari Dr Gufran Ali Ibrahim. Dalam pesan singkatnya, mantan Rektor Universitas Khairun tersebut mengabarkan bahwa Surat Keputusan (SK) Guru Besar-nya telah ada, dan dirinya resmi menjadi Profesor dalam ilmu Antropolinguistik. Membaca pesan itu, saya pribadi (dan saya kira juga civitas akademika lainnya) bersyukur karena gelar guru besar dan semoga menjadi inspirasi bagi dosen-dosen lainnya.

Waktu menjabat Rektor, cukup banyak surat yang menulis: Kepada Yth. Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, MS. Tertulisnya kata ‘Prof’ dalam surat itu, Dr Gufran berkali-kali protes, karena ia belumlah Profesor (saat itu masih proses pengusulan di Kemdikbud). Mungkin, surat terakhir (saat menjadi Rektor) yang memanggilnya dengan tambahan ‘Prof’ ketika ia diminta jadi pembicara seminar di Makassar. Dr. Gufran meminta agar kata ‘Prof’ itu dihilangkan dalam surat. Saya menghubungi panitia di Makassar, agar tidak mencantumkan kata ‘Prof’ itu. Menurut saya, ini sikap yang baik sekali, “kalau memang belum Prof, janganlah menggunakan Prof.” Sederhana memang, tapi ada kejujuran intelektual di situ.

Pertemuan
Saya mengenal Dr Gufran lebih dekat dalam dua tahun ini. Setidaknya, pada suatu Workshop Program Studi Antropologi Sosial (yang baru dibuka), saya bertemu dengan dengan dua orang terbaik di Unkhair: Drs H Jusuf Abdulrahman (alm., mantan Rektor), dan Dr Gufran Ali Ibrahim yang waktu itu masih sebagai Rektor. Pertemuan dengan kedua tokoh tersebut memberikan arti tersendiri. Saat itu, walau masih sakit, H. Jusuf masih meminta agar di semester depan Ia dapat diberikan satu mata kuliah untuk diasuhnya. Semangatnya untuk mengajar dan mengabdi luar biasa. Dan, itu juga saya lihat dari semangat Dr Gufran untuk memberikan yang terbaik bagi universitas.

Pertemuan kedua dengan Dr Gufran terjadi di Masjid Muhammad Samil Djahir (MSD), Kampus Gambesi. Waktu itu, saya baru saja resign sebagai Sekretaris Eksekutif Jimly School of Law and Government dan aktivitas di Institut Peradaban. Di lembaga baru tersebut, saya berkantor di Lantai 3 Gedung BPPT Jakarta (eks kantor BJ Habibie) yang ditempati Prof Jimly Asshiddiqie. Setiap ada rapat Jimly School dan Institut Peradaban, saya hadir menemani Prof Jimly dan Prof Salim Said (Mantan Dubes RI di Ceko, Praha). Sepulang ke Ternate, Prof. Jimly menitipkan salam kepada Rektor Unkhair. Akhirnya, karena ingin menyampaikan salam tersebut (sekaligus ingin menyerahkan buku baru karangan saya), saya bertemu di MSD.

Besoknya, kami bertemu di ruang Rektor. Dalam pertemuan itu, saya diminta untuk menjadi Sekretaris Rektor. Sebagai orang ‘baru’ di Unkhair (CPNS tahun 2010), saya merasa jabatan itu terlalu cepat, akan tetapi tidak juga bagi Dr Gufran. “Ini kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa berbuat banyak untuk memajukan Unkhair,” kata beliau.

Alasan beliau ketika itu yang paling menonjol adalah aktivitas saya di bidang tulis-menulis yang begitu intens di Malut Post dan Radar Halmahera. Dalam salah satu tulisan, saya pernah menulis dengan label ‘Pengamat sosial, tinggal di Tobelo’ yang dikritiknya. Katanya, “lebih baik tulis sebagai Dosen Antropologi Unkhair, agar kita kembangkan Unkhair lewat tulisan.” Dua minggu kemudian, setelah konsultasi dengan istri, saya menerima tawaran tersebut, menggantikan Sekretaris Rektor sebelumnya (Drs Sutaryo, M.Ed, TESOL) yang melanjutkan S3 di Australia.

Setidaknya dalam 2 tahun menjadi Sekretaris Rektor, selain urusan kantor sehari-hari (dengan tetap mengajar sebagai kewajiban), saya juga menyelesaikan 17 naskah buku—baik yang sudah diterbitkan maupun dalam proses penerbitan. Jika dikalkulasi, hingga Juli 2013, alhamdulillah, setidaknya saya telah menulis 29 naskah buku pribadi, 2 naskah berdua, 10 naskah antologi, 4 buku editan, 7 kata pengantar buku, dan tulisan yang pernah dimuat di 26 media cetak maupun elektronik.

Low Profile
Sejak pertama bertemu, saya melihat Dr Gufran adalah pribadi yang terbuka. Waktu makan siang di ruang skripsi Fakultas Sastra dan Budaya, bersama H Jusuf, saya melihat keterbukaan tersebut. Ia juga rendah hati, tidak mengangkat dirinya setinggi-tinggi, kemudian menjatuhkan orang lain. Dalam karakter Dr Gufran (juga H. Jusuf), tampak bahwa keduanya sama-sama menginginkan agar Unkhair menjadi perhatian kita semua, karena kampus ini merupakan kampus perjuangan sejak lama yang penuh dengan kisah jatuh-bangun. Motto Unkhair “maju bersama dengan ilmu” mencerminkan kerendahhatian itu, keinginan untuk mengajak sebanyak mungkin orang memajukan kampus ini bersama-sama, dengan tetap menggunakan ilmu.

Kerendahatian itu juga saya temukan dalam aktivitasnya sehari-hari. Pada hal-hal yang ia tidak kuasai, ia akan mengakui bahwa orang lain lebih baik darinya. Keterbukaan seperti ini baik dalam konteks keterbukaan, karena masyarakat lebih suka pribadi yang terbuka mengatakan bahwa ia tidak bisa di suatu bidang. Karena sebagai manusia kita tentu tidak ada yang bisa semua hal. Maka, kita butuh orang lain yang bisa untuk menyelesaikan sebuah masalah.

Jadi Profesor
Perjuangan Dr Gufran untuk menjadi profesor tidaklah mudah. Setelah melewati pengusulan guru besar oleh Senat Unkhair, pada Maret 2012 beberapa karyanya sempat diminta validasi/periksa ulang oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud karena ada indikasi kesamaan substansi karya ilmiah di beberapa jurnal dan buku. Setelah Komisi Etik Senat Unkhair memvalidasi dokumen usulan Guru Besar pada 11 dan 26 April 2012, akhirnya 1 tahun 3 bulan (Juli 2013) kemudian turun SK penetapannya sebagai Guru Besar.

Dr Gufran menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Negeri Manado ((Unima), kemudian melanjutkan ke Program Pascasarjana S2 dan S3 di bidang Antropolinguistik Universitas Hasanuddin (Makassar) dengan disertasi tentang Bahasa Tae’ di Sulawesi Selatan. Karirnya di Unkhair dimulai sejak 1988. Berbagai jabatan di internal kampus pernah diembannya, seperti Sekretaris Balai Penelitian, Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP), Pembantu Rektor I bidang Akademik di masa Rektor H Rivai Umar, hingga menjadi Rektor Unkhair masa bakti 2009-2013 yang dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 51/M tahun 2009.

Dalam aktivitas sosial, ia juga aktif sebagai Ketua Forum Komunikasi antar Umat Beragama (FKUB) Maluku Utara, dan saat ini masih tercatat sebagai Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Maluku Utara. Semasa mahasiswa, ayah dari Dini Dahlia Ibrahim ini pernah aktif di Gerakan Pemuda Ansor. Ia juga aktif di Nahdlatul Ulama (NU), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Dalam dunia tulis-menulis, Dr Gufran telah aktif menulis sejak mahasiswa. Tulisannya baik berupa esai, puisi, dan cerpen, pernah dimuat di berbagai media, seperti Fajar, Pedoman Rakyat, Kompas, Malut Post, dan berbagai media dan jurnal ilmiah lainnya. Beberapa buku yang pernah ditulisnya adalah Mengelola Pluralisme dan Metamorfosa Sosial dan Kepunahan Bahasa. Beberapa tulisannya termuat dalam buku Bunga Rampai Budaya Berpikir Positif Suku-suku II terbitan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2008), buku Budi Bahasa yang diterbitkan Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar (2007), buku Melayu di Selat Makassar yang diterbitkan oleh Institut Alam dan Tamaddun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia (2009), buku Pemikiran Islam Kontemporer yang diterbitkan atas kerjasama STAIN Ternate dengan Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Depag RI (2005), buku Menjelaskan Realitas, Menangkap Makna yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Khairun (LepKhair) (2005).

Ia juga kerap diminta menjadi narasumber berbagai kegiatan seminar kebahasaan dan kebudayaan, baik nasional maupun internasional, termasuk menjadi narasumber untuk TV One dan Trans7 terkait kepunahan bahasa dan Metro TV terkait pendidikan yang menjadi concern-nya. Ia pun diminta LIPI bekerjasama dengan MNC TV untuk menjadi narasumber pada pembuatan film dokumenter tentang bahasa dan suku Pagu di Halmahera. Selain itu, Dr Gufran kini juga diminta oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) menjadi Ko-Promotor bagi salah seorang mahasiswa S3 Linguistik dalam menulis disertasinya.

Pada 2012, dalam kapasitasnya sebagai Rektor Unkhair, Dr Gufran mengunjungi beberapa Universitas di Amerika Serikat, selama 8 (delapan) hari melalui kegiatan Sister University Program Development yang di-support PT Aneka Tambang (Tbk). Selama di Amerika (bersama Direktur Umum dan CSR Antam, Denny Maulasa, Supervisor, Didik J. Kuntadi, dan staf CSR Novelita Primacahya) Dr Gufran menjajaki kemitraan dengan Montana State University di Buzeman, Montana Tech The University of Montana di Butte, Michigan University di Chicago Detroit, dan Texas A&M University di Houston Texas. Kunjungan ke empat universitas di empat kota yang berbeda ini memakan waktu 8 hari perjalanan, dari tanggal 13 sampai dengan 20 Juli 2012. Saat ini, Unkhair tengah mempersiapkan tenaga dosen untuk diberangkatkan short course di Montana, Amerika.

Tiga Pilar
Di masa Dr Gufran menjadi Rektor (2009-2013), ada tiga pilar pengembangan kampus yang ditetapkan, yaitu: (1) pemenuhan fasilitas dasar kegiatan pembelajaran, (2) penguatan tata kelola perguruan tinggi dan pengembangan sumberdaya manusia, dan (3) peletakan dasar-dasar pelaksanaan penjaminan mutu akademik. Melaksanakan ketiga pilar ini tidaklah mudah. Sebagai PTN yang masih muda, ekspektasi masyarakat Maluku Utara banyak tercurah pada Unkhair. Ekspektasi yang tinggi itu baik sekali, namun tidaklah mudah untuk menjalankannya—setidaknya ketiga pilar tadi. Ketiga pilar ini, nampaknya memang tetap menjadi perhatian bagi Rektor Dr Husen Alting yang baru dilantik pada Jumat 12 Juli 2013, bahkan untuk Rektor-Rektor selanjutnya. Karena ketiga hal ini sifatnya mendasar, dan perlu untuk pengembangan universitas yang seperti kata Dr Gufran, “Tidak cukup hanya satu atau dua Rektor.”

Akhirnya, lewat tulisan dan kesan pribadi ini, saya ingin memberikan tahniah—ucapan selamat. Selamat kepada Dr. Gufran yang telah jadi Profesor. Kini surat-surat yang dulu menggunakan kata ‘Prof’ di depan nama Dr Gufran rasanya sudah pas mengunakan nama lengkap ini: Prof Dr Gufran Ali Ibrahim, MS.(*)

Editor: Asri


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com