Kamis, 19 Oktober 2017

Surat Terbuka untuk Sesama Rakyat

3 tahun yang lalu | 6:11 am
Surat Terbuka untuk Sesama Rakyat

Baca juga

Rasanya saya begitu sentimentil ketika menuliskan surat ini. Batin saya sebagai rakyat, begitu terguncang dan sangat terbawa kemarahan setelah melihat prilaku para anggota DPR-RI yang terhormat.

Mungkin sebagian orang akan menuduh, perasaan itu muncul akibat saya merupakan bagian dari sebuah lembaga survei. Kami akan kehilangan pekerjaan setelah pada akhirnya subuh dini hari ini, tuan-tuan DPRRI memustuskan bahwa Pemilihan kepala daerah dikembalikan melalui mekanisme DPRD.

Sebagai pimpinan sebuah lembaga survei, perlu saya tegaskan bahwa lembaga kami tidak terlalu terpengaruh atas berubahnya mekanisme pemilihan tersebut. Berhubung IDEC (indonesia development engineering consultant) tidak hanya berfokus dan bergantung dari survei politik, selama ini lembaga kami lebih banyak mengerjakan berbagai riset sosial dan ekonomi.

Jadi, izinkan saya meluapkan kemarahan ini atas nama pribadi yang juga rakyat indonesia, sebagai seorang dosen yang mengajarkan ilmu politik kepada mahasiswa-mahasiswanya, sebagai seorang ayah yang ingin anaknya tumbuh dalam iklim negara yang bebas dan rakyatnya memiliki kedaulatan penuh.

Karena sungguh drama politik yang disajikan oleh para anggota DPRRI dari Partai Demokrat yang berada dibawah kendali jenderal cerdasnya Susilo Bambang Yudhoyono, adalah sebuah drama politik yang begitu memuakkan. Apalagi apa yang dilakukan oleh partai-partai koalisi merah putih yang terdiri dari barisan Golkar, Gerindra, PAN, PKS dan PPP yang telah menunjukan wajah asli mereka!

Saya pikir tak perlu lagi argumentasi mengapa kami selama ini menolak Pemilihan lewat DPRD lihat disini;
http://wartatimur.com/mengapa-ruu-pilkada-harus-ditolak-ini-alasannya.html
http://rakyatsulsel.com/daulat-elite.html

Melalui surat terbuka ini, saya hanya ingin menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh sejumlah elit tersebut telah “merampas kedaulatan besar yang kita miliki sebagai rakyat”. Kedaulatan yang diperjuangkan lewat cita-cita reformasi, perjuangan yang coba dirawat demi tegaknya demokrasi!

Tak bisa saya bayangkan, selama ini sebenarnya rakyat hanya diberikan satu kewenangan dalam proses memilih pemimpin daerah, yakni memilih apa yang disodorkan oleh partai politik di bilik suara. Karena sejatinya, partai politiklah yang memilihkan kita siapa calon-calon gubernur, walikota, dan bupati yang akan kita pilih.

Hanya sekedar itu sebenarnya kewenangan kita sebagai rakyat, dan kini dengan tertawa-tawa dan mulut yang penuh kesombongan, mereka telah merampas hak konstitusional kita satu-satunya untuk ikut memilih pemimpin daerah.

Saudara-saudaraku sesama rakyat, saya bukanlah bagian dari pendukung Jokowi-JK. Bahkan pada pilpres kemarin saya mendukung dan memilih Prabowo-Hatta dengan alasan “kepantasan” akan figur keduanya yang menurut hemat saya waktu itu, Prabowo- Hatta lebih layak memimpin indonesia.

Demikian pula pada pemilihan legislatif yang kemarin, saya tetap memilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS), karena saya percaya banyak orang baik di PKS. Namun subuh ini, mata saya terbuka bahwa saya telah salah memilih dua kali baik pada pemilihan presiden maupun pemilihan legislatif 2014.

Mereka yang saya pilih adalah manusia-manusia dengan sosok retoris. Bibirnya berbicara rakyat dan ummat, namun hatinya berkata lain. Kejadian subuh ini sesungguhnya menunjukan apa yang menjadi niat koalisi elit tersebut, bahwa mereka sedang menuntaskan dendam kepada lawan politiknya sekaligus membayarkan dendam kepada rakyat mayoritas yang dipandang selama ini tidak mendukung mereka.

Bagaimana mungkin dengan watak partai politik indonesia yang sangat oligarkis seperti saat ini, dimana segala keputusan ditentukan oleh tuan-tuan ketua umum di Jakarta, lantas kita bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang mau mendengarkan dan menyuarakan apa yang kita hendaki?

Ini adalah sebuah tirani, sebuah perampasan hak-hak politik rakyat dengan menggunakan konstitusi, untuk itu sudah waktunya sebagai sesama rakyat kita menggalang kekuatan bersama. Melakukan petisi bersama lewat berbagai selebaran, pamphlet, protes media onlie, media sosial dan segala akses informasi yang kita punya dan dapat dijangkau.

Biar mereka para elit-elit itu tahu, bahwa rakyat mayoritas sedang benar-benar marah!

Mereka yang mengerti hukum, ajukanlah sebanyak-banyaknya uji materi kepada MK menyangkut undang-undang ini. Kawan-kawan yang terbiasa di jalanan, mungkin sudah waktunya kembali kita bersama ke jalan, mari kita kunjungi rumah rakyat, biar mereka tahu kita tidak sudi diwakilkan haknya oleh mereka.

Terakhir, pada subuh hari ini kita telah belajar bahwa semua partai yang menjadi bagian dari perampas hak konstitusional kita, jangan lagi kita pilih sampai kapanpun karena mereka telah mencuri sesuatu yang sangat besar dari diri kita yaitu “kedaulatan dan kebebasan”!

Salam Perlawanan


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com