Selasa, 20 November 2018

Sesat Pikir Prof Marwan Mas

4 tahun yang lalu | 8:06 am
Sesat Pikir Prof Marwan Mas

Baca Juga

Tanggapan atas komentar Prof Marwan Mas terkait bentrokan mahasiswa Makassar.


Oleh : Asri Abdullah (Peneliti IDEC / Mahasiswa Pascasarjana Unhas angkatan 2013)

Beruntunnya bentrokan antarmahasiswa di beberapa kampus di Makassar, seperti di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Muhammadiyah Makassar, dan di Universitas Negeri Makassar (UNM) menuai berbagai komentar dari pengamat.

Salah satunya dari pengamat kriminal Universitas 45 Makassar, Prof. Marwan Mas. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas 45 Makassar ini menilai bentrokan mahasiswa Makassar yang terjadi secara beruntun diduga by design. Seperti yang penulis kutip dari TRIBUN TIMUR (25/11/2013), Prof Marwan Mas mengatakan “Bentrokan antara mahasiswa di kampus adalah sesuatu yang tidak lazim dan patut dicurigai. Kenapa hampir bersamaan terjadi pada beberapa kampus. Apakah insiden ini di desain dari luar kemudian mahasiswa dibenturkan dengan cara mengungkit persoalan lama.”

Prof Marwan Mas juga menghubungkan bentrokan mahasiswa yang terjadi secara beruntun menduga memiliki hubungan dengan Pemilu 2014. Dirinya menilai, apa saja bisa terjadi untuk kepentingan politik tertentu, misalnya, ada beberapa pimpinan Parpol yang masuk ke kampus sosialisasi partai dengan alasan kuliah umum.

Sesat Pikir
Tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada Prof Marwan Mas sebagai pengamat yang sering dikutip oleh beberapa media lokal di Makassar, penulis menilai ada sesat pikir/kesalahan berpikir yang dilakukan oleh Prof Marwan Mas yang menduga bentrokan mahasiswa by design untuk kepentingan politik di luar kampus.

Pertama, Prof Marwan Mas terlalu tergesa-gesa sebagai seorang Guru Besar menduga bentrokan by design. Sejauh ini belum ada penelitian ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa ataupun peneliti yang telah mengungkap akar penyebab konflik antarmahasiswa di beberapa kampus di Makassar.

Olehnya itu, pendugaan atas bentrokan mahasiswa Makassar by design tidak berdasar. Tidak adanya data atau penelitian yang mengungkap penyebab konflik antarmahasiswa ini juga menjadi menyebabkan pihak kampus tak mampu meredam konflik yang berlangsung setiap tahun ini, meski telah memberi sanksi tegas berupa skorsing dan pemecatan bagi mahasiswa yang terlibat bentrok.

Tawuran antarmahasiswa, khususnya di dua kampus di Makassar yakni antara Fakultas Teknik dan Fisipol di Unhas, serta FBS dan Fakultas Teknik UNM telah berlangsung sejak lama. Bahkan telah terjadi secara turun-temurun. Diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Berbagai spekulasi bermunculan jika konflik antarmahasiswa kembali “meledak” di kampus. Mulai dari alasan mahasiswa ditunggangi, hingga menghubungkannya dengan proses politik yang terjadi di luar kampus seperti Pilkada dan Pemilu.

Lebih parahnya lagi, terkadang karena tak dapat mengungkap pelaku utama, dan apa yang mendasari konflik sampai terjadi, pengamat dan pihak kampus sering kali menyalahkan “tokoh imajinatif” yang biasa disebut sebagai provokator.

Post Hoc Ergo Propter Hoc
Kedua, Prof Marwan Mas terjebak dalam kesalahan berpikir Post Hoc Ergo Propter Hoc. Kesalahan berpikir yang menghubungkan dua peristiwa yang terjadi secara temporal yang tidak memiliki hubungan sebab-akibat sama sekali. Seperti yang diungkapkan Prof Marwan Mas yang mengatakan bahwa ada hubungan atau keterkaitan antara bentrokan mahasiswa yang terjadi secara beruntun di beberapa kampus di Makassar kemudian menghubungkannya dengan proses politik yang terjadi di luar kampus seperti jelang Pemilu 2014 dan Pemilihan Legislatif 2014.

Menurut penulis, menghubungkan antara bentrokan mahasiswa Makassar dengan momentum Pemilu 2014 adalah hal yang keliru dan tidak memiliki hubungan sama sekali. Jika memang betul bentrokan mahasiswa dan momentum Pemilu 2014 memiliki hubungan sebab-akibat, maka harus dijelaskan hubungan kausalitasnya melalui bukti dan fakta-fakta empiris di lapangan.

Melalui tulisan ini, penulis berharap kepada beberapa pengamat, khususnya yang sering memberikan komentar di media massa terkait dengan tawuran yang terjadi antarmahasiswa, tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa data yang mampu dipertanggungjawabkan.

Penulis yang juga sebagai mahasiswa merasa sangat dirugikan dengan pernyataan yang menganggap mahasiswa sangat rawan untuk ditunggangi oleh kepentingan politik di luar kampus, sementara tak ada bukti empirik dan data-data yang mampu menegaskan hal tersebut terjadi di kampus. (*)


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com