Sabtu, 26 Mei 2018

‘Separatisme’ Mahasiswa

4 tahun yang lalu | 5:10 pm
‘Separatisme’ Mahasiswa

Baca Juga

Oleh: Aqmal Reza Amri (Anggota Pers Mahasiswa Corong, Universitas Muhammadiyah, Makassar)

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika tampaknya saat ini tidak lebih seperti stiker yang terpajang di bawah kaki burung Garuda pada lambang negara . Slogan yang berarti ‘Berbeda-beda, tapi tetap satu’ ini terasa menggelitik ketika konflik antar suku, agama, dan kelompok terus berlangsung di tanah air dari pulau Miangas hingga pulau Rote. Tidak terkecuali kelompok intelektual di negeri ini yakni Mahasiswa.

Beragam konflik yang berujung pada aksi anarkis tidak hanya dipertontonkan oleh masyarakat umum, tapi juga kalangan terpelajar yang menjadi ujung tombak pembangunan nasional di masa depan. Dua tahun terakhir, kita mendapati berbagai tawuran antarmahasiswa di berbagai daerah di tanah air, terutama di Kota Makassar.

Konflik yang terjadi di tingkat mahasiswa biasanya didalangi sifat arogan kedaerahan/Etnosentris. Etnosentris bak sebuah penyakit yang menjangkiti mahasiswa di negeri ini. Akibatnya, kampus yang seharusnya menjadi tempat yang paling nyaman dan menimba ilmu bagi siapapun, menjelma menjadi tempat menakutkan untuk dikunjungi. Kampus seakan menjadi medan perang mahasiswa antarsuku dan antargolongan tertentu.

Konflik antarmahasiswa yang mengatasnamakan identitas kedaerahan bahkan melebihi konflik yang terjadi di masyarakat. Berbagai alat perang digunakan kelompok terpelajar ini seperti badi’, papporo’, parang, busur, dan berbagai alat atau benda tajam yang sengaja dibuat untuk keperluan konflik oleh golongan tertentu.
Konflik memang bukanlah hal yang berdiri sendiri yang terjadi secara spontan. Konflik yang terjadi di belahan tanah air sebagian besar terjadi karena alasan politik. Walaupun beberapa diantaranya tak memiliki kepentingan politik, tapi pasca konflik kepentingan politik pun turut mengambil perannya.

‘Gerakan Separatis’
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah bukti konflik yang hadir karena kepentingan politik. Hak politik warga yang telah dilanggar oleh negara biasanya melahirkan konflik negara versus masyarakat dalam bentuk gerakan separatis. Gerakan ini dinilai sebagai gerakan melawan negara.

Sebenarnya, jika negara mau belajar dari GAM dan OPM seharusnya negara mesti sadar bahwa gerakan tersebut adalah gerakan politik yang menuntut hak warga negara. Tidak menilainya semata sebagai gerakan ‘makar’ yang ingin berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tawuran antarmahasiswa juga merupakan konflik yang sarat kepentingan. ‘Perang’ antarkaum terpelajar ini terus terjadi di beberapa kampus di Indonesia, khususnya di Makassar. Tawuran yang melibatkan banyak kelompok yang terjadi di dalam kampus dengan alasan apapun tak bisa diterima. Apalagi, mengingat mahasiswa adalah kelompok terpelajar dan kalangan intelektual yang bergelut dengan dunia pengetahuan.

Jangan heran, ketika antarmahasiwa yang bertikai, tak sedikit hujatan yang datang dari berbagai kalangan. Berbeda dengan konflik yang terjadi di masyarakat, antarkelompok, antarsuku, dan antaragama terkadang dinilai tidak begitu serius dibandingkan konflik yang melanda kaum terpelajar.

Konflik antarmahasiwa yang mengatasnamakan daerah memang marak terjadi di Makassar. Fanatisme kelompok berlebihan dan ambisi berkuasa atas kelompok daerah lain menjadi salah satu motif pemicu terjadinya konflik. Apalagi konflik yang secara turun-temurun di jaga oleh ‘senior’ di kampus.

Nasionalisme
Konflik atas dasar kelompok atau daerah adalah salah satu bukti memudarnya rasa nasionalisme di negeri ini. baik itu konflik yang terjadi di masyarakat maupun yang berlangsung pada kalangan terdidik seperti mahasiswa. Konflik antar-mahasiswa menjadi ironi bagi pemuda dan pelajar ketika kita mengingat Sumpah pemuda yang digagas beberapa tahun silam atas dasar nasionalisme.

Sindiran mengenai rasa nasionalisme pernah diungkapkan salah satu musisi, dan kritikus sosial, Iwan Fals. ‘Jangan bicara soal nasionalisme, mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri’. Itulah ucapan Iwan Fals dalam salah satu lirik lagunya yag menyinggung tentang nasionalisme.

Bagi generasi muda, nasionalisme mungkin masih asing secara umum, tapi sangat terasa saat pertandingan bola jika Indonesia bertanding melawan negara lain. Rasa nasionalisme di negeri ini hanya tampak di pertandingan bola saja. Seharusnya rasa nasionalisme juga hadir ketika beberapa pulau-pulau di Indonesia di klaim oleh negara lain, dan beberapa budaya Indonesia diambil oleh negara tetangga.

Nasionalisme tidak boleh hanya menjadi slogan saja yang terpajang di setiap dinding sekolah, instansi pemerintah dan di kantor-kantor negara. Nasionalisme mesti hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga konflik yang terjadi antar-mahasiswa yang mengatasnamakan daerah tidak di ‘tuduh’ oleh pemerintah sebagai gerakan yang sama dengan GAM, dan OPM. Tapi jika konflik ini terus berlagsung dan ‘terpelihara’, maka bukan tidak mungkin gerakan ini akan dinamakan sebagai ‘gerakan separatis’ dalam ruang lingkup kedaerahan.

Mahasiswa sebagai kelompok terpelajar mestinya tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk berkonflik mengatasnamakan daerah, karena masih banyak persoalan yang lebih serius yang mesti disikapi seperti kemiskinan, pengangguran, dan mahalnya pendidikan yang tampak jelas di depan mata. Kaum terpelajar mestinya mengawal setiap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat miskin di negeri ini. (*)


Penulis : Warta Timur
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com