Senin, 22 Oktober 2018

Perjalanan Panjang Menuju ‘Tirai Besi’

5 tahun yang lalu | 10:11 am
Perjalanan Panjang Menuju ‘Tirai Besi’

Baca Juga

 

Oleh: Dirga Sirajuddin (Mahasiswa Pasca Sarjana Foreign Area Studies Orel State University, Rusia)

Suatu malam yang luar biasa, di saat aku sedang bersilahturahmi di salah satu rumah kawanku di Makassar. Momen-momen lebaran merupakan momen dimana Tuhan memberikan rezkinya pada umatnya. Malam itu, tiba-tiba saja handphone kuberdering yang menandakan terdapat pesan email masuk. Secara perlahan aku membukanya dan puji tuhan email tersebut berasal dari Pusat Pendidikan dan Kebudayaan Rusia, PKR, di Indonesia yang menginformasikan mengenai kelulusanku di salah satu universitas di Rusia, Orel State University.

Untuk dapat berada pada posisi sekarang ini, penerima beasiswa Rusia, bukanlah pekerjaan mudah. Setidaknya, diperlukan ketelitian dan kesabaran dalam menjalani proses penyeleksian yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya, mulai Januari-Agustus 2013.

Rusia bagi sebagaian orang mungkin masih merupakan sebuah negara yang menakutkan. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari warisan pemikiran perang dingin dan orde baru yang menyebut Rusia sebagai negara komunis, dan dijuluki sebagai negara ‘Tirai Besi’. Alasan inilah yang membuat cemas kedua orangtuaku saat saya mencoba melamar beasiswa pemerintah Rusia.

Sistem pendidikan di Rusia memang agak berbeda dengan sistem pendidikan di negara-negara eropa barat, khususnya pendidikan tinggi. Sistem pendidikan tinggi di Rusia terdapat empat jenjang, Strata I, II, III dan IV. Dimana, pada bidang tertentu dapat dilakukan akselerasi Strata I dan II sehingga mahasiswa tidak perlu lagi melanjutkan program Strata II dan dapat langsung ke program Strata III.

Bagi mahasiswa asing, seperti saya yang hendak melanjutkan pendidikan di Rusia, maka terlebih dahulu harus mengikuti program kelas persiapan bahasa selama satu tahun. Hal ini dikarenakan seluruh universitas di Rusia tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahan, tapi yang digunakan adalah bahasa Rusia. Hal ini juga berlaku bagi kelas internasional. Bagi saya kebijakan ini tentu patut diapresiasi, karena dengan kebijakan ini dapat mengenalkan identitas Rusia lebih jauh serta dapat mempromosikan bahasa Rusia ke-seluruh dunia.

Sewaktu menjalani serangkaian proses seleksi beasiswa Pemerintah Rusia, terdapat beberapa persyaratan khusus sehingga memerlukan keseriusan dan mental yang cukup untuk menyelesaikan proses awal, pengumpulan berkas aplikasi. Pasca melalui proses ini, peserta dihadapkan juga pada proses wawancara yang dilakukan langsung oleh Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, Konsuler Kedutaan Besar Federasi Rusia, Bapak Vyacheslav Tuchnin.

Setelah melalui serangkai seleksi tersebut, proses akhir adalah penyelksian berkas yang dinyatakan lulus oleh PKR dikirim dan diseleksi kembali oleh Kementerian Pendidikan Federasi Rusia di Moscow. Di sini mereka yang dinyatakan lulus diharuskan menterjemahkan berkas mereka ke dalam format bahasa Rusia dengan penerjemah tersumpah. Hal ini tentunya bukan perkara mudah mengingat akses untuk mendapatkan penerjemah tersumpah dalam bahasa Rusia sangat sulit.

Namun, dengan berbagai pertimbangan pada akhirnya pihak Kedutaan Federasi Rusia bersedia membantu proses penerjemahannya. Satu hal yang perlu dicatat bahwa mekanisme penerimaan beasiswa pemerintah Rusia berbeda dengan beasiswa luar negeri pada umumnya, meskipun kita diterima oleh PKR dan dikirim ke Kementerian Pendidikan Rusia dan pihak kementerian tidak menyetujuinya, maka kita juga secara tidak langusng dianggap gagal.

Pilihan untuk melanjutkan pendidikan di Rusia bukanlah suatu pilihan yang populer, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Hal ini tercermin dengan jumlah pelajar Indonesia di Rusia yang hanya berkisar ± 140 orang saja, kalah jauh dengan negara tetangga kita, Malaysia.

Jumlah pelajar Indonesia tentunya juga berbanding terbalik dengan jumlah pelajar Indonesia di negara-negara lain seperti Australia, Singapura, Malaysia, Jepang, Jerman, Belanda, Perancis, Inggris dan Amerika Serikat. Namun berangkat dari ketidakpopuleran itulah yang memantapkan langkahku menuju Rusia. Dalam kajian Ilmu Hubungan Internasional, Rusia merupakan salah satu negara terbesar di dunia, baik dari segi kekuatan militer, ekonomi, wilayah dan penduduk, serta merupakan negara pemegang hak veto di PBB.

Pilihan melanjutkan pendidikan di Rusia tentunya dapat memberikan posisi tersendiri bagiku kelak. Selain itu, sebagai mahasiswa Hubungan Internasional besar harapanku untuk dapat memajukan prospek kerjasama strategis Rusia-Indonesia yang telah berlangsung selama ini.

Rusia dan Indonesia dalam sejarahnya merupakan ‘kawan lama’ dalam dunia internasional. Kini langkahku kumantapkan menuju ‘kawan lama’, Rusia. Suhu dingin Rusia takkan mampu mematahkan semangatku. Lapangan Merah, Kremlin, aku datang untuk sejarah besarmu. (*)

Editor: Asri


Penulis : Warta Timur
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com