Kamis, 2 April 2020

Perempuan, Kampus dan Bisnis Makassar

3 minggu yang lalu | 1:47 pm
Perempuan,  Kampus dan Bisnis  Makassar

Baca juga

WARTATIMUR. COM- Status  mahasiswa  tak lantas menghambat jalan  perempuan untuk berkreativitas untuk  mandiri  secara  finansial  sejak   dini.

Di tengah kesibukan  akademik dan organisasi kampus di Makassar , mereka  masih menyisihkan waktu  untuk  menjajal kepiawaiannya dalam   berwirausaha.

Bercerita  tentang mahasiswa  dan  bisnis tentu  bukanlah topik  yang  awam di telinga  kita sehari-hari.  Bahkan bagi  sebagian orang percaya bahwa memiliki kemampuan  berbisnis  sejak menyandang  mahasiswa adalah hal yang baik  untuk  menujang  karir  ke depan pasca menyandang  status mahasiswa.

Bahkan tak  jarang  cikal bakal beberapa  brand-brand ternama yang  ada di Indonesia sekarang  berawal dari  kegemaran berbisnis  pemiliknya sejak di bangku kuliah.

Brand seperti Cotton Ink milik  Carline Darjanto dan Ria Sarwono,  Produk kosmetik Sariayu milik pengusaha perempuan Martha Tilaar,  Wendy Sui Cheng dengan  Brand Sari Roti merupakan  beberapa  contoh  yang  dapat  dilihat  di Indonesia.

Fakta tersebut  mengamini penelitian Kourilsky, M. L. dan W. B. Walstad, 1998 yang dimuat sebuah  Jurnal Bisnis dengan judul Entrepreneurship and female youth  mengatakan   bahwa keinginan berwirausaha para mahasiswa merupakan sumber bagi lahirnya wirausaha-wirausaha masa depan , yang mana hal ini  sangat dipengaruhi  oleh  sikap, perilaku   dan pengetahuan  tentang  kewirausahaan di masa sekarang.

Kepribadian  dan Lingkungan

Beberapa  hal yang sangat  berpengaruh  dengan  intensi  jiwa bisnis seseorang adalah karakter kepribadian  dan lingkungan.

McClelland dalam kayanya The Achieving society dan  The Achievment Motive and Economic Growth memperkenalkan konsep kebutuhan akan prestasi sebagai salah satu motif psikologis yang memnculkan keinginan untuk  membangun bisnis

Kebutuhan akan prestasi dapat diartikan sebagai suatu kesatuan watak yang memotivasi seseorang untuk menghadapi tantangan untuk mencapai kesuksesan dan keunggulan.

Menurut McClelland kepribadian seseorang  dengan  kebutuhan  prestasi  tinggi  cenderung tidak ingin  mempercayai  kecenderungan  opini publik. Mereka  menganggap  itu  sebagai  sebuah  tantangan  yang harus  dilalui untuk  meraih  prestasi  diri .

Mereka yang  menekuni  dunia bisnis cenderung memiliki  kepribadian  seperti  ini.  Karena  mereka  menganggap rasa pesimis  publik terhadap sesuatu,  menjadi  sebuah peluang prestasi  yang  perlu  dimenangkan.

” saya pikir dunia  bisnis  juga milik  perempuan yang  juga harus  dimenangkan, saya merasa senang ketika teman-teman saya yang wisuda puas memakai jasa make-up, itu sebuah  prestasi  menurut  saya , perihal uang  itu  bonus  atas keberhasilan  saya membaca  peluang ” kata Murdifina mahasiswa  jurusan Ilmu  Al-Qur’an & Tafsir pemilik  jasa make-Up dengan  brand Fino MUA

Kelihaiannya  dalam  memoleskan kosmetik ke wajah,  membuat  gadis yang menempuh pendidikan  di UIN  Alauddin Makassar ini menciptakan  peluang  usahanya  sendiri.

Selain skill  menurut  Murdifina adalah lingkungan yang cukup  membentuk  pemikirannya untuk  menggeluti bisnis MUA miliknya.

” lingkungan  sangat  mempengaruhi  pola pikir  saya,  percuma  kalau ada skill  tapi  lingkungan  tidak mendukung ” sambungnya.

Lebih jauh tentang lingkungan Indiarti dalam karya  tulisnya yang berjudul Factors affecting entrepreneurial intentions among Indonesian students mengungkapkan  bahwa faktor  lingkungan  yang  dapat  mempengaruhi kewirausahaan seseorang  dapat diartikan  sebagai akses mereka kepada modal, informasi, dan kualitas jaringansosial yang dimiliki.

Menyoal  modal merupakan  hambatan  klasik  yang  dialami  oleh  setiap calon  wirausahawan, terlebih  bagi  mereka  yang masih  duduk  di bangku mahasiswa.

“benar modal  menjadi  salah  satu penghambat dalam usaha mahasiswa  seperti  saya,  karena  kita  belum  punya  sumber  pemasukan  sendiri kan,  alih-alih  ya sisihkan uang  jajan bulanan dari orang  tua dan belanja produk yang paling dibutuhkan, nanti kalau sudah ada hasil ya baru kita putar lagi untuk belanja bahan make-up ” jelas Murdifina

Selanjutnya  adalah  akses  informasi  dan jaringan  sosial. Dalam karyannya Competition and knowledge in Javanese rural business Kristiansen yang dikutip  oleh Indarti & Rostiani mengungkapkan  bahwa Penelitian yang dilakukan oleh Singh dan Krishna (1994) di India membuktikan bahwa keinginan yang kuat untuk memperoleh informasi adalah salah satu karakter utama seorang wirausaha.

Pencarian informasi mengacu pada frekuensi kontak yang dibuat oleh seseorang dengan berbagai sumber informasi.  Ketersediaan informasi baru akan tergantung pada karakteristik seseorang, seperti tingkat pendidikan dan kualitas infra-struktur, meliputi cakupan media dan sistem telekomunikasi.

Sementara  untuk jaringan sosial menurut Kristiansen terdiri dari hubungan formal dan informal antara pelaku utama dan pendukung dalam satu lingkaran terkait dan menggambarkan jalur bagi wirausaha untuk mendapatkan akses kepada sumber daya yang diperlukan dalam pendirian, perkembangan, dan kesuksesan usaha.

” tertarik bisnis travel  karena saya dapat  informasi bahwa teman-teman mahasiswa yang membutuhkan  tiket, khususnya mereka yang kuliah  di luar sulsel tentunya  membutuhkan  tiket  yang harganya  murah” ungkap Anastasya Mahasiswa Ekonomi Universitas  Hasanuddin.

Gadis kelahiran  Jakarta 30 Januari 1998 ini mengungkap dalam  bisnis travel ia lebih  memilih mempromosikan jasanya melalui instagram pribadinya @payungallonastasya karena  jaringan pertemananya  luas.  Bahkan menurut  gadis yang  belajar  bisnis dari keluarganya ini banyak teman-temannya dari beberapa  kota yang cukup  terbantu  dan menggunakan  jasanya,  seperti dari Yogyakarta,  Jakarta  Bandung, Makassar dll

Mempunyai skill dan mampu mandiri secara finansial  adalah  sejumlah  cara untuk  mengangkat  kepercayaan diri  seorang  perempuan  dalam kehidupan bermasyarakat.

Fakta  sejarah dunia  yang memposisikan perempuan  sebagai  second sex di arena publik, membuat perempuan  harus  bekerja  dua kali lipat lebih dari pria untuk  mendapatkan  posisinya di tengah masyarakat.

“Kemandirian secara finansial tentu saja akan meningkatkan rasa percaya diri kita sebagai perempuan , misalnya kelak ketika kita berumah tangga kita tidak hanya berpangku tangan dan  berharap kepada suami. Karena kewajiban memenuhi kebutuhan rumah tangga bukan hanya kewajiban seorang laki-laki. Perempuan pun bisa ” Kata Fauziah Ramadhani  Ketua Bidang  Pemberdaya Perembuan Gabungan  Pemuda pelajar Mahasiswa Barru(GAPPEMBAR)  sekaligus owner dari brand bisnis  Hidroponik Aisyah.

 


Penulis : ona mariani
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com