Jum'at, 24 November 2017

Penyeduh Kopi ‘Penguasa’ Makassar Sejak 1985

2 minggu yang lalu | 8:06 am
Penyeduh Kopi ‘Penguasa’ Makassar Sejak 1985

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (21/10/2017) – Petrus, begitu sapaan akrab pria paruh baya yang sehari-harinya dapat ditemui di ruangan Wali Kota Makassar. Bekerja sejak tahun 1985, di usia baru menginjak 21 tahun, pria kelahiran Pinrang, 2 Oktober 1964 ini, telah mengabdikan diri menjadi pegawai Pemerintah Kota Makassar.

Sudah sembilan pemimpin Kota Daeng yang ia layani, termasuk dua pelaksana tugas. Menyiapkan kopi hangat untuk Sang Walikota, lengkap dengan santapan atau camilan, sesuai selera masing-masing, adalah tugas sehari-harinya.

Berangkat dari rumah sekitar pukul 06.30 WITA, Petrus yang juga menjadi satu-satunya pemegang kunci ini, harus memastikan kebersihan dan kerapian ruang kerja wali kota.

“Hal paling saya perhatikan selama menjadi staf khusus di ruangan wali kota, memang menyangkut kebersihan. Karena jika ruangan bersih, tentu wali kota dapat bekerja dengan nyaman,” ungkap pria bernama Petrus Bala ini.

Setelah memastikan kebersihan ruangan. Petrus biasanya akan duduk menanti kehadiran wali kota. Apabila yang dinantikan telah tiba, ia akan langsung bergegas menuju ruang dapur. Meracik secangkir minuman pahit berwarna hitam pekat, namun manis untuk pimpinannya.

Minuman itu biasanya langsung diantarkan ke ruang rapat Wali Kota Makassar, dengan uap yang masih mengepul, lengkap dengan makanan atau camilan yang sudah dipesankan sebelumnya.

“Makanannya yang saya siapkan bermacam-macam, tergantung siapa yang saat itu menjabat. Kalau Pak Ilham biasanya saya siapkan kopi hitam yang tidak telalu manis, dilengkapi dengan ikan pepes dan nasi rawon. Sementara Pak Danny, cukup secangkir Nescafe dan biskuit Khong Guan,” tuturnya.

Pengingat Makan bagi Wali Kota

Tidak hanya menyiapkan makanan dan minuman, serta menjaga kenyamanan ruang kerja orang nomor satu di Kota Makassar, pria yang gemar menggunakan Sepu Toraja dalam setiap aktivitasnya ini, juga bertugas mengingatkan waktu makan bagi wali kota.

“Biasanya kalau tidak diingatkan, Bapak wali kota selalu lupa makan, mungkin karena saking banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi saya ingatkan terus. ‘Tabe Pak sudah jam berapa ini? Makan miki dulu.’ Begitu saya bilang,” kenangnya sambil tersenyum.

Melayani wali Kota Makassar selama 32 tahun, diakui Petrus, merupakan waktu yang cukup lama. Namun pekerjaan ini merupakan tugas yang sangat membanggakan baginya.

“Saya sangat menyukai pekerjaan ini. Banyak orang yang bilang, kalau saya adalah orang yang beruntung, bisa melayani dan menjadi saksi sejarah pemimpin-pemimpin Kota Makassar,” tutupnya.


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com