Minggu, 21 Juli 2019

Pemkot Makassar Terbitkan Perwali Program Neurosains

2 bulan yang lalu | 3:12 pm
Pemkot Makassar Terbitkan Perwali Program Neurosains

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (25/4/2019) – Pemkot Kota Makassar, menerbitkan peraturan wali kota (perwali) yang mengatur pelaksanaan program neurosains. Metode ini disebut-sebut sebagai tahapan memetakan kemampuan aparatur sipil negara (ASN) untuk ditempatkan di suatu posisi jabatan yang cocok.

Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto mengaku, tes neurosains ini sebagai tahapan pelengkap dalam rangka membenahi jalannya pemerintahan. Dengan mengukur dan memetakan kemampuan pejabat agar bisa ditempatkan sesuai dengan posisi jabatan di birokrasi secara tepat.

“Neurosains itu mengungkap hal-hal yang tidak pernah dilihat orang. Tapi sifatnya rahasia tidak boleh diungkap umum. Kelihatan orang kalau curang, tidak loyal, gampang tergoda. Jadi hati-hati juga,” ujar Danny.

Metode neurosains ini diklaim mampu memahami karakter suatu pejabat secara lebih jauh dengan fokus pada pendalaman sistem saraf. Kata Danny, di negara-negara maju seperti Jepang maupun Singapura bahkan sudah menerapkan hal ini untuk mengungkap kecocokan seorang pejabat pada jabatan yang akan diamanahkan kepadanya.

Pada pelaksanaan seleksi lelang 15 jabatan pimpinan tinggi pratama lingkup Pemkot Makassar sebelumnya, Danny bahkan memasukkan metode neurosains sebagai tahapan pelengkap. Itu setelah mendapatkan nama-nama tiga besar peraih nilai tertinggi dari hasil rangkaian tes untuk memilih satu pejabat yang pantas mengisi jabatan tertentu.

“Maka lengkap sudah cara perekrutan kita. Bukan hanya mengikuti standar negara yang telah ditetapkan. Tapi kita mengikuti standar-standar interbasional. Jepang dan Singapura telah melakukan ini dan kita sudah punya perwali neurosains untuk memetakan otak-otak birokrat,” tegas dia.

Danny berharap, penerapan metode neurosains ini tidak hanya diimplementasikan dalam lelang jabatan eselon II saja, tapi kepada seluruh ASN yang bakal ditempatkan pada posisi-posisi strategis lainnya di birokrasi, baik oada tingkatan kepala bagian (kabag), maupun kepala sub bagian (kasubag).

“Saya juga sudah minta kepada lembaga yang mengelola neurosains, diharapkan kabag-kabag kita harus dineurosains. Misalnya, kasubag atau kabag perencanaan. Apakah dalam pemetaan otaknya, cocok ditempatkan perencanaan. Kita harus rencanakan ini dengan baik,” pungkasnya.


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com