Selasa, 16 Januari 2018

Menyusuri Setiap Lekuk Sungai Tello Makassar

1 tahun yang lalu | 1:36 pm
Menyusuri Setiap Lekuk Sungai Tello Makassar

Baca Juga

MAKASSAR, WARTAIMUR.COM (18/3/2016) – Bagi warga kota Makassar pasti pernah melintas di atas batang Sungai Tallo, baik di Jembatan Tello maupun di Jembatan Toll. Tetapi, boleh jadi, belum semua orang pernah menyusuri sungai itu, setidak-tidaknya dari bawah Jembatan Tello hingga Dermaga Desa Lakkang atau muara sungai.

Jika ingin menyusuri sungai Tello, wisatawan start dari dermaga darurat di samping rumah toko (ruko) di depan Makassar Town Square (MTos) atau dapat ditengok sebelah kiri sisi utara sungai jika melintas di atas Jembatan Tello dari arah kota. Dermaga tersebut bersifat darurat, tetapi jika hendak mengemas ekowisata Sungai Tallo, menjadikan dermaga darurat (jadi permanen) merupakan pilihan yang tepat.

Sehabis Jembatan Tello, di sebelah kanan, ada bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), pabrik yang sudah terbilang renta melayani penerangan listrik di Kota Makassar. PLTU saban hari selalu dilihat oleh siapa pun yang melintas di Jl.Urip Sumoharjo dan hendak ke Jl.Perintis Kemerdekaan. Hanya saja, nama PLTU selain terkait pemadaman lampu (kadang-kadang), juga menjadi buah bibir berita radio lokal karena selalu disebut sebagai lokasi yang jadi biang kemacetan di dekat PLTU.

Menyusuri Sungai Tello ke arah hulu, di sisi kiri dan kanan hanya menawarkan pemandangan tetumbuhan yang homogen, pohon nipah. Sejenis palem (palma) yang juga dikenal dengan nama lain, daon, dan daonan. Beberapa daerah di Indonesia memiliki penamaan tersendiri terhadap tumbuhan yang dalam bahasa ilmiahnya Nypa fruticans Wurmb ini.

Sebelah kiri tampak ada bangunan tembok yang cukup dekat dengan pinggir sungai. Ternyata bagian dari gedung MTos. Terdapat juga bangunan darurat dari kayu yang tampaknya sangat merusak pemandangan. Masih di sebelah kiri, ada rumah panggung yang tampaknya sering dijadikan sebagai tempat menikmati udara dan pemandangan sungai.

Kembali ke sebelah kanan, ada pemandangan tidak biasa, yakni kawasan sawah dengan pondok yang dibangun di pinggir sungai. Saya cuma khawatir, jangan sampai buaya yang digembar-gemburkan orang ada di sungai itu, secara diam-diam tiba di dekat pondok dan menarik kaki warga yang sedang duduk di atasnya. Kita tidak pernah membayangkan bahwa di pinggir sungai ini ada areal sawah yang masih dijaga oleh warga. (*)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com