Sabtu, 21 Juli 2018

Mengenang Kembali Cerita di Balik Fort Rotterdam

3 bulan yang lalu | 2:02 am
Mengenang Kembali Cerita di Balik Fort Rotterdam

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (11/1/2018) – Fort Rotterdam, benteng bersejarah yang dibangun oleh Kerajaan Gowa (Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi) pada 1545. Letaknya di Jalan Ujung Pandang, Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar.

Di dalam benteng tersebut, terdapat 16 bangunan utama. Fungsi benteng itu kala masa Kerajaan Gowa, dimaksudkan untuk memperkuat basis pertahanan. Perang melawan ekspansi VOC menjadi alasannya.

Pembangunan benteng terus disempurnakan. Pada masa Raja Gowa ke-10, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Kaliung Tunipallangga Ulaweng, peremajaan dilakukan dengan penambahan batu karang dan tanah liat pada dinding. Tujuannya untuk menambah kekuatan dinding pada benteng itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Musaffar Syah menjelaskan, dinding pada Fort Rotterdam mulanya tidak seperti saat ini. Pada masa Raja Gowa ke-14, (I Mangarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanggari Guakanna) struktur dinding diperkuat dengan susunan bata dan batu yang dibentuk persegi empat.

“Dulu di sana (Fort Rotterdam) isinya rumah-rumah panggung, tiangnya kayu, dindingnya bambu dengan atap daun nipah. Ditinggali prajurit dan bangsawan Kerajaan Gowa,” kata Musaffar kepada VIVA.co.id di Makassar, Senin, 21 Agustus 2017.

Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, kata dia, benteng itu dijadikan pusat persiapan perang menghadapi tentara Belanda. Pemanfaatan gedung itu digunakan Kerajaan Gowa hingga puluhan tahun.

Sejak diambil alih oleh Belanda (1667), fungsi dari gedung tersebut digunakan sebagai kantor dan markas perang oleh Belanda. Ada juga beberapa bangunan yang difungsikan menjadi penjara bagi tahanan perang.

Sekarang, Fort Rotterdam terbilang masih terawat. Bangunan bergaya Eropa masih terjaga di dalam benteng tersebut. Hanya saja, pantauan VIVA.co.id, coretan vandalisme masih didapati mengotori sejumlah dinding bangunan.

“Sekarang difungsikan sebagai salah satu objek wisata sejarah di Sulsel. Setiap harinya tak kurang dari 100 pengunjung yang datang. Bahkan bisa tiga sampai empat kali lipat jika akhir pekan,” ujar Musaffar.

Ia menjelaskan, halaman di dalam benteng Fort Rotterdam kini dimanfaatkan sejumlah komunitas, seniman, dan budayawan untuk menggelar event atau kegiatan kesenian. Begitu juga dengan pelaksanaan konser di malam hari.

“Jadi sekarang menjadi ruang publik. Bisa bikin event apa saja, asalkan izin dulu sama pengelolanya. Event kelas internasional juga sering dilakukan di sana,” tuturnya.

Ada satu bangunan yang dapat digunakan untuk melakukan pertemuan, diskusi ataupun seminar. Luasnya mampu menampung 100 orang lebih. Pengelola Fort Rotterdam juga menyediakan kursi dan alat pengeras suara. (*)


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com