Kamis, 2 April 2020

Menakar Kekuatan “Puan” di Pilkada Sulsel

1 bulan yang lalu | 7:27 am
Menakar Kekuatan  “Puan” di Pilkada Sulsel

Baca juga

WARTATIMUR.COM- Keterlibatan  perempuan  dalam panggung politik sejak dulu tetap menjadi daya tarik tersendiri,  tak terkecuali  di Sulawesi  Selatan.

Sejumlah  nama seperti  Andi Rachmatika Dewi (Cicu),  Indah Putri Indriani (Bupati Luwu  Utara)  , Indira Mulyasari,  Aliyah Mustika Ilham, Andi Tenri Olle merupakan  beberapa  nama figur  perempuan yang memiliki  pengaruh di kancah perpolitikan tanah  daeng.

Selain itu ada juga  Suhartina Bohari  anggota  DPRD Maros, dan  Rismayani  Syamsuddin  istri  Bupati  Pangkep yang  digadang-gadang  akan  mendampingi Andi Ilham  Zainuddin  (AIZ)  untuk  maju  di  Pilkada  Pangkep mendatang.

Apabila  melihat  jumlah  perempuan yang  turut  serta  dalam  kancah  perpolitikan  Sulawesi Selatan  tentu jumlahnya masih  sangat  kurang bila  disandingkan  dengan  data Indeks  Pembangunan  Gender Sulsel  2018 dari  Badan  Pusat  Statistik  (BPS) yang menyebutkan  bahwa  jumlah  penduduk  perempuan di  Sulsel masih lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  laki-laki, terutama  di  Sejumlah  Kabuaten/Kota yang akan menggelar  pemilukada  di  Sulsel.

Di Makassar  misalnya jumlah  penduduk perempuan  mencapai 761.203 sementara  laki-laki  menempati  angka 746.951, Di Bulukumba jumlah penduduk  perempuan  mencapai 220.697 jiwa  dan  laki-laki  berjumlah 197.629 jiwa,  begitu  pula di Soppeng  jumlah  penduduk  perempuan mencapai  119.982 sementara  laki-laki  hanya  menempati  angka  106.788 jiwa .

Indonesia  Development  Engineering  Consultant  (ide-C)  menilai  bahwa keterlibatan  perempuan dalam  kontestasi  politik  Di Sulsel  cenderung dipengaruhi  oleh  politik  dinasti dibandingkan figur independen. Hal ini terlihat dari sejumlah  nama perempuan  yang  akan dan  telah  mengikuti  pilkada masih  memiliki  relasi  dengan  elit berpengaruh  maupun  mantan  petahana.

Selanjutnya  untuk  konteks  pilkada   Sulsel tahun  ini  IDEC melihat  bahwasanya dengan  mendominasinya  pendaftaran  melalui  jalur  partai  yang kemudian  di  dominasi  oleh  petahana  akan  mempersulit  figur  baru  dari  kalangan  perempuan  yang akan  muncul. Jika pun ada  minimal berstatus  petahana, seperti  Indah  Putri  Indriani maupun  kader  partai  yang telah  memiliki  pengalaman seperti  Andi Rachmatika  Dewi  (Cicu)  yang kini  menjabat  sebagai ketua  DPD  Nasdem  Makassar, karena  partai  akan  sedikit  jual  mahal  mengingat  jalur  perseorangan  telah ditutup.

Lembaga survey yang menjadi  anggota  PERSEPI  ini  juga  menambahkan bahwa  meskipun  jumlah  penduduk perempuan di  Sulawesi Selatan  lebih  tinggi  dibandingkan  laki-laki.  Figur  perempuan tidak  bisa  serta  merta  mengangkat  isu  perempuan sebagai  isu  utama  kampanye, karena ini  belum  cukup  menjual. Perempuan  masih  tetap  dituntut untuk memiliki modal sosial  lainnya  yang  juga  dimiliki  oleh  kandidat  laki-laki  yang  siap bertarung jika  memutuskan untuk  maju  bertanding.

 


Penulis : ona mariani
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com