Jum'at, 24 Mei 2019

Makam Pangeran Diponegoro, Mozaik Perjuangan di Tanah Daeng

2 minggu yang lalu | 2:50 pm
Makam Pangeran Diponegoro, Mozaik Perjuangan di Tanah Daeng

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (30/4/2019) – Pemandangan Selasa sore (30/4) di dalam makam Pangeran Diponegoro amat kontras dengan hiruk-pikuk jalanan yang juga meminjam nama sang pahlawan nasional.

Dari gerbang masuk, saya kemudian diarahkan untuk mengisi buku tamu. Rahmad Bakrie Daeng Malewa, menyambut dengan ramah. Rupanya sang istri masih generasi kelima keturunan Pangeran Diponegoro yang tersebar di Makassar.

“Ya, jumlahnya sekitar 300-an dengan profesi beragam. Mulai dari pegawai negeri hingga pengusaha,” tuturnya.

Kami saling bercakap di dalam pendopo sederhana. Bangunan kecil tersebut terdiri dari dua kamar, tiga sofa penerima tamu, serta tiga lukisan Diponegoro dalam berbagai ukuran.

Usai ditangkap, sekaligus mengakhiri Perang Jawa (1825-1830) yang amat melelahkan pemerintah kolonial Belanda, sosok yang lahir dengan nama Bendoro Raden Mas Ontowiryo itu kemudian diasingkan ke Makassar. Di kota bandar perdagangan, Diponegoro kemudian menghabiskan hari-hari penahanannya dalam salah satu sel Benteng Fort Rotterdam, selama 21 tahun.

Namun, Pangeran Diponegoro tak sendiri. Dia turut serta membawa sang istri, RA Ratu Ratna Ningsih, lima anak serta anggota laskar pejuangnya ke Tanah Daeng. Dengan status darah biru Kesultanan Yogyakarta, tak sulit bagi bagi putra-putrinya mendapat pasangan juga dari kalangan bangsawan. Mereka menikah dengan anggota kerajaan Bone, Soppeng hingga Gowa.

Beranak pinak di tanah orang membuat keturunan Diponegoro di Makassar terbilang unik, mengingat mereka punya dua silsilah bangsawan berbeda pulau. Sang juru kunci makam, Raden Hamzah Diponegoro, malah ada dalam barisan generasi keturunan kelima. Sebagai bentuk pengakuan, Keraton Yogyakarta turut menerbitkan Surat Kuasa atas tugasnya pada tahun 2017 silam.

Sederhana dan terawat, itu yang pertama kali terasa saat saya memasuki area pemakaman. Sebanyak 60 pusara, termasuk makam Pangeran Diponegoro beserta sang istri, terlihat bersih kendati hanya mengandalkan tenaga kebersihan sukarela. Dulu, kondisinya tak sebaik sekarang. Usai puluhan tahun dalam kondisi ala kadarnya, pemugaran total dilaksanakan pada dekade 1970-an berkat bantuan dari Kodam IV Diponegoro.

“Setiap 17 Agustus juga dilakukan pengecatan oleh Dinsos. Bantuan juga datang dari Keraton Yogyakarta, terutama saat ada acara tertentu,” ujar Rahmad. Tak hanya dari Pemkot Makassar, bantuan juga berasal dari sejumlah instansi pemerintahan di Pulau Jawa. Salah satunya dari Pemprov Jawa Tengah di tahun 2007 silam.

Kendati demikian, masih ada satu hal yang agaknya hendak diwujudkan meski sukar. “Ada harapan jika makam ini bisa diperluas. Tapi tentu saja bakal sulit mengingat harus berurusan dengan hal-hal teknis seperti tanah dan lainnya,” ungkap pria yang juga beristrikan salah satu dari generasi kelima Diponegoro.

Saat menilik kembali buku tamu, daftar kunjungan didominasi oleh orang-orang yang berdatangan dari pulau Jawa. Ada rombongan Pemkot Semarang, wisatawan dari Kudus, Surabaya, Wonosobo hingga peziarah asal Sleman. “Umumnya yang datang rata-rata itu PNS yang kebetulan sedang ada perjalanan dinas di Makassar,” tandas salah satu pegawai Cagar Budaya Makassar tersebut.

Sejumlah tokoh nasional pun pernah menyempat diri berziarah. Ada Wakil Presiden Jusuf Kalla, ibunda Presiden Joko Widodo, GKR Pembayun (Mangkubumi) hingga Prabowo Subianto sebelum masuk masa kampanye Pilpres 2019. Namun jika dihitung-hitung, Rahmad mengakui jika angka kunjungan paling banyak dalam sehari, rata-rata hanya mencapai 9 orang.

“Mungkin karena beliau bukan orang asli sini, ya. Tapi tetap saja Pangeran Diponegoro adalah tokoh pejuang. Masih ada anak-anak rombongan anak sekolah yang datang berkunjung jika hendak menelusuri jejak beliau di tanah Makassar.” Dengan letak yang cukup berdekatan, para pelajar dapat dengan mudah meneruskan perjalanan dari Fort Rotterdam ke makam Pangeran Diponegoro.


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com