Rabu, 22 November 2017

Mahasiswa di Persimpangan ‘Lampu Merah’

3 tahun yang lalu | 4:49 am
Mahasiswa  di Persimpangan ‘Lampu Merah’

Baca Juga

Oleh: Asri Abdullah (Pengajar di Universitas Muhammadiyah Makassar/ Penulis Buku “POLITIK KOTA: Studi Perilaku Pemilih Kota Makassar, 2014”)

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa.. “ (Pramoedya Ananta Toer)

Hampir semua orang pernah melalui traffic light. Selain pengendara sepeda motor, mobil, dan bentor (becak motor) yang sering ditemui tempat ini, tak jarang ditemui pengamen jalanan, pengemis, dan tentunya aparat kepolisian. Tapi akhir-akhir ini, traffic light banyak diramaikan oleh kelompok mahasiswa. Kehadirannya menuai kritik dari seorang teman.

“Mahasiswa sekarang tidak ada bedanya dengan pengemis yah,” ujarnya sambil menunjuk ke arah mahasiswa yang sedang memegang kardus bertuliskan: “sumbangan”.

Sambil menunggu lampu merah padam, ia terus mengoceh, “Mahasiswa seharusnya lebih kreatif mencari dana untuk kegiatan kemahasiswaan. Dana kemahasiswaan kan banyak di kampus, mengapa repot-repot mengubah profesi menjadi “peminta-minta” di jalanan. Kegiatan kemahasiswaan tidak punya korelasi langsung dengan masyarakat, kenapa mintanya ke masyarakat?”.

Makiannya berlanjut, katanya, di traffic light seberang lain lagi. Mahasiswa di sana tak jadi pengemis. Justru jadi pengamen. Lagi-lagi dengan alasan kegiatan kemahasiswaan. “Kalau mau jadi pengamen mendingan tidak usah kuliah, lebih baik masuk sekolah musik saja agar menjadi musisi professional”.

Lampu merah pun padam, komentarnya terus mengalir seperti roda mobil yang sedang berputar, lanjutnya, ada juga mahasiswa yang menjelma jadi pedagang. Masih di perempatan “lampu merah” biasanya menjajakan jajanan bagi pengendara yang menanti lampu hijau. “Tidak usah kuliah kalau mau jadi pedagang, hanya menghabiskan uang saja, apalagi kuliah sekarang mahal!. Ada baiknya uang kuliah dijadikan modal usaha saja. Dasar mahasiswa tidak kreatif,” kembali ia mengutuki mahasiswa.

Kendaraan yang penulis tumpangi kembali terhenti di traffic light berikutnya, tapi ocehannya tak berhenti. “Mahasiswa pengemis, pedagang dan pengamen semuanya sama saja, memacetkan jalan untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Dasar mahasiswa,” cetusnya.

Romantika Sejarah

Teman lain yang duduk di belakang supir juga angkat bicara. “Mungkin zaman sudah berubah. Dulu mahasiswa tak pernah minta sumbangan di jalan untuk kegiatan kemahasiswaan kecuali untuk sumbangan kemanusiaan seperti bencana alam.

Sekarang mungkin kampus mendidik mereka menjadi pengamen, pengemis, dan pedagang. Banyak dana kemahasiswa saat ini diperuntukkan untuk modal wirausaha mahasiswa. Jumlahnya tidak sedikit. Orientasi kehidupan mahasiswa berubah. Mahasiswa dididik jadi pengusaha, rakyat miskin yang ditindas pelan-pelan tak menjadi pembicaraan penting di kampus-kampus,” ungkapnya.

Dulu, katanya, mahasiswa dikenal sering memacetkan jalan, tapi untuk kepentingan kelompok yang ditindas. Demonstrasi menutup jalan untuk memperjuangkan masyarakat yang tanahnya dirampas dan menentang kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada orang miskin.

Memang, juga banyak masyarakat yang tidak suka ketika mahasiswa demonstrasi yang memacetkan jalan. Beda demonstrasi, beda pengamen dan mahasiswa yang menjadi pengemis di jalanan. Demonstrasi jelas kepentingannya, meski ada sebagian orang yang tidak diuntungkan. Misalnya, yang marah pasti pengguna jalan kalangan kelas menengah yang hidupnya sedikit mapan dan sudah mapan, tapi bagaimana dengan masyarakat yang setiap harinya terancam lapar dan tergusur?.

Kondisi kampus saat ini juga ikut bertanggung jawab terhadap laku mahasiswa. Saat ini, sulit mendapatkan ruang-ruang intelektual seperti diskusi yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menunjukkan dirinya sebagai kelompok intelektual di kampus.

Wajar saja, minta dana untuk kegiatan mahasiswa di rektorat kesulitan, bahkan mungkin saja pihak rektorat sengaja tidak memberikan dana mahasiswa supaya daya kritis mahasiswa semakin berkurang. Lihat saja, beberapa kampus di Makassar telah melarang mahasiswa melakukan pengkaderan seperti OSPEK. Sanksi disiapkan bagi yang melawan. “Saya pikir, ancaman ini sudah ada sejak zaman sebelum reformasi,” katanya.

Padahal, dulu ketika dana kemahasiswaan lambat dicairkan oleh pihak rektorat, tidak segan-segan mahasiswa melakukan demonstrasi menuntut dana kemahasiswaan. “Mahasiswa sekarang bagaimana mau memperjuangkan rakyat kecil, memperjuangkan diri sendiri saja tidak bisa, apalagi membela orang lain yang tertindas,” ujarnya.

Contohnya, cari uang di jalanan untuk kegiatan kemahasiswaan adalah salah satu bukti mahasiswa tidak berani menuntut haknya di dalam kampus. Dirinya menilai, ini akibat kurangnya baca buku, diskusi, dan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di kampus. “Mahasiswa sekarang lebih senang ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke kafe-kafe, dibandingkan terjun langsung melihat kemiskinan yang terjadi di masyarakat.”

Seorang teman yang duduk di samping supir, yang dari tadi menyimak pembicaraan tiba-tiba angkat bicara, “Mungkin mahasiswa sekarang tak tahu apa itu miskin?. Apalagi melihat langsung kemiskinan yang ada di masyarakat,” katanya sambil tertawa.

Penulis yang berhadapan dengan setir mobil, tak bisa banyak bicara, hanya bisa menyimak diskusi yang alot dari para mantan mahasiswa yang telah menjadi kelas pekerja menurut Marx. Supir yang telah berada tepat di depan gerbang yang tertulis Universitas Hasanuddin, tiba-tiba berkata, zaman boleh berubah, kemajuan teknologi informasi tidak bisa ditolak, tapi mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan kalangan terpelajar tak boleh lupa amanah sejarah yang ditorehkan oleh mahasiwa pendahulu pada momentum seperti Malari dan Reformasi 1998.

Menurut sopir, tidak ada maksud, menganggap mahasiswa sebagai superior atau superhero seperti Spiderman, Batman, dan Superman. Tapi sebagai kelompok terpelajar, mahasiswa pasti tahu mana yang baik dan buruk, mana yang adil dan tidak adil, dan mana salah dan benar.

“Kecuali Mahasiswa sekarang sudah tidak punya perasaan dan nalar seperti yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras akan tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminal, meskipun dia mahasiswa ataupun sarjana,” katanya.

Sambil memarkir mobilnya, supir kembali mengingatkan kepada rekannya yang masih berada di dalam mobil, “Sekarang pilihannya, mahasiswa pengemis, pengamen dan pedagang “coki-coki” yang tidak punya perasaan dan nalar atas penderitaan orang miskin atau menjadi mahasiswa yang membela kelompok tertindas,” tegasnya menutup diskusi. (*)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com