Sabtu, 19 Oktober 2019

Lingkar Donor Makassar; Kisah Darah dan Kemanusiaan

5 tahun yang lalu | 6:10 am
Lingkar Donor Makassar; Kisah Darah dan Kemanusiaan

Baca Juga

Oleh: Alfian Diro Damis (Mahasiswa STIMIK Dipanegara Makassar)

“Engkau bidadari surga yang akan menjemput orangtua mu kelak. Doa pengampunan senantiasa kami kirimkan untukmu dan orang-orang yang telah membantumu. Doa perlawanan juga kami kirimkan untuk orang-orang yang yang hingga akhir hayatmu membuat susah orangtuamu. Rest In Peace! Merdekalah jiwamu!

Di atas kasur berseprai putih, irama nafas Nova mulai tak teratur. Darah yang keluar dari gusinya tak berhenti. Dokter lalu menyuruh perempuan berumur sekitar 45 tahun asal Toraja yang berdiri di sampingnya untuk secepatnya mencari darah. Nova butuh 17 kantong darah.

Perempuan itu adalah ibunya. Tangan kanannya menghapus air mata yang jatuh di wajah anaknya, sedang tangan kiri menarik leher baju yang sudah meluber untuk menghapus air matanya sendiri.

Dengan wajah sembab dan pakaian lusuh tanpa jaket, Ia tiba di UTD malam itu. Pegawai UTD menawarkan kepadanya untuk meminta tolong kepada relawan Lingkar Donor, karena stok darah A yang dibutuhkannya saat itu sedang kosong di UTD.

“Dek, ada temanta‘ darah A?” Perempuan kurus itu  memulai pembicaraan.

Hanya ada 3 tempat penyimpanan darah; Bank Darah Rumah Sakit, UTD, dan PMI. Sayang, stok darah A di ketiga tempat itu kosong. Semua keluarganya yang berdomisili di Makassar dan bergolongan darah sama dengan Nova juga tidak ada lagi.

Di malam yang berbeda, ada juga Pak Husain, kuli bangunan borongan asal Takalar yang sudah dipenghujung usia. Anaknya yang akrab dipanggil Egi berumur 7 tahun divonis mengidap anemia aplastik. Awalnya, kalau di bank darah dan UTD sedang kehabisan stok, Pak Husain ke PMI untuk mengambil darah. Hanya saja setiap butuh darah, PMI tak sanggup memenuhi kebutuhan Egi yang tidak tanggung-tanggung meminta belasan kantong.

Meski Pak Husain mempunyai jaminan kesehatan, setiap permintaan darah yang diserahkan ke PMI harus disertai uang jaminan sebesar Rp.250.000/kantong dan akan dikembalikan satu bulan kemudian. Dengan pendapatan yang tidak tetap sebagai kuli bangunan, Pak Husain mulai kewalahan terus-terusan menyimpan jaminan.

Entah kapan pertama kali bertemu, Ia meminta tolong kepada Lingkar Donor untuk dibantu mencarikan darah. Setahun perjuangan Pak Husain mencarikan darah untuk anaknya, dia menyumpahi “Tidak ada yang selamat diruangan ini!!!”

Air matanya membanjiri ruangan lontara 4 lantai 2 RSWS. Lelaki yang berumur sekitar 55 tahun itu memang begitu kuat. Ketika anaknya sedang membutuhkan darah di malam hari, dia berjalan kaki dari RSWS ke UTD. Dia memang tak punya kendaraan, dia juga tak punya uang 5000 rupiah pun untuk membayar ojek. Tanpa jaket dia membelah dinginnya malam. Tercatat lebih 240 kantong darah B yang dibutuhkan Egi selama setahun perjuangannya, sebelum bapaknya yang kuat itu menangis lemah diruang jenazah.

Lingkar Donor dan Semangat yang Tak Pernah Kendor

28 November 2012, disepakati bersama sebagai tanggal didirikannya Tim Relawan Kemanusiaan, Lingkar Donor Darah Makassar. Walaupun sudah mulai secara alamiah beberapa bulan sebelum ditetapkannya hari jadi itu.

Di masa-masa awal terbentuk , kedatangan Lingkar Donor sempat ditolak sampai diusir oleh beberapa pegawai UTD. “Kalau sudah tidak ada yang dicarikan darah, pulang meki’ saja, dek.” Tapi sepertinya Lingkar Donor seperti anak kecil yang baru mau tumbuh giginya. Semangatnya mampu mengalahkan tuduhan “makelar darah” pada mereka. Mereka tetap setia duduk berjaga-jaga.

Relawan linkar Donor hampir semuanya mahasiswa. Mereka bermarkas di UTD-P Sulsel yang berada di ujung jalan kompleks kantor Balai Kesehatan Sulsel. Saban hari mereka berjaga di depan UTD secara bergantian. Tapi kadang-kadang ada juga relawan yang rela meninggalkan kuliahnya.

Lingkar Donor menghubungkan pasien yang membutuhkan darah dengan pendonor. Setelah mencatat data pasien, para relawan segera mencari darah yang dibutuhkan. Dengan menelepon, menyebarkan melalui SMS, atau memanfaatkan sosial media. Lingkar donor memprioritaskan pasien kurang mampu dan pasien yang dirujuk dari luar kota.

Setahun langkah mereka berjuang dalam pendampingan pasien yang membutuhkan darah. Sudah ada sekitar ratusan pasien yang mereka dampingi. Mulai dari pasien yang membutuhkan darah sebelum dan sesudah operasi, hidrosevalus, Tumor, hingga pasien yang divonis mengidap penyakit anemia aplastik, leukemia, dan talasemia.

Sebut saja Andini asal Pangkep, golongan darah B, pasien anemia aplastik berumur 7 tahun. Selama setahun lebih perjalanan melawan keganasan penyakitnya yang didampingi Lingkar Donor, tercatat 360 kantong pemakaian darah, belum lagi yang tidak tercatat.  Tapi sayang, kematian lebih menyanyangi bocah lucu ini.

Sebuah Sentilan Kemanusiaan

Lingkar Donor menyentil kualitas pelayanan kesehatan di Negara ini. Sejatinya Rumah Sakit memberi pelayanan terbaik untuk pasien. Tapi sayang, kenyataan jauh dari harapan. Pak Husein pun pernah mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS). Mulai dari tidak adanya kipas di ruangan, pelarangan membawa dan menggunakan kipas angin pribadi, pelayanan apotik sampai persoalan administrasi.

Kesadaran donor darah masyarakat Makassar juga masih sangat jauh dari ideal. Kebutuhan darah masih tidak sesuai dengan stok darah yang tersedia. Akhirnya, keluarga pasien harus mencari orang untuk mendonorkan darahnya. Yang jadi persoalan adalah bagaimana dengan mereka yang tidak punya satupun keluarga di Makassar?

Misalnya Nayla, asal Morowali, Bungku, Sulawesi Tengah, salah satu pasien yang didampingi Lingkar Donor. Orang tuanya sendiri adalah transmigran asal Jawa. Anaknya divonis penyakit leukemia atau kanker darah. Penyakit leukemia ini disebabkan karena produksi sel darah putih berlebih dan tidak terkendali yang menyebabkan fungsi normal darah menjadi terganggu (http://penyakitleukemia.com).

Orang tua Naila sehari-harinya bekerja di sawah. Saat anaknya dirujuk ke Makassar, dia tak bisa lagi menghasilkan apa-apa. Namun Nayla dan orang tuanya justru mendapat perlakukan kejam di ibu kota provinsi, Makassar. Lagi-lagi, pelayanan rumah sakit yang katanya berkelas, jauh dari jangkauan mereka. Bagi saya, mereka juga punya hak untuk diperlakukan sama dengan mereka yang punya banyak uang.

Mereka itu manusia juga! Kenapa mereka tidak diperlakukan sama dengan mereka yang bisa memberi banyak uang? Apa karena perut mereka tidak buncit? Siapa yang harus bertanggung jawab ketika nafasnya sudah tidak ada lagi dan dia masih harus dipersulit juga?

Beberapa bulan di rumah sakit, di ruang Picu, nafas Naila akhirnya kembali ke pelukannya-Nya. Tapi! Saat ia telah tiada, ada saja pihak yang masih membuat orang tuanya kesusahan. Untuk mengantarkan jenazah anaknya pulang ke Morowali, dia harus membayar sebanyak Rp.9.000.000 sedang uangnya yang tersisa hanya Rp.2.500.000. Para relawan Lingkar Donor pun mendatangi pihak rumah sakit meminta kebijakan untuk kepulangan Almarhuma Naila. Kebijakan rumah sakit hanya mengurangi sebanyak Rp 3.000.000.

Dengan berat hati, orang tuanya mengiyakan pembayaran mahal itu dengan berjanji melunasinya setelah sampai di Morowali. Itupun dengan mengharap belas-kasih dari keluarganya di sana. Hati siapa yang tak piluh mendengar kisahnya?

Nailah, balita usia 4,5 tahun ini semasa telah mendapat kesusahan, kini saat ia telah tiada, pihak lain tetap membuat orangtuanya susah. Selamat jalan nak, engkau bidadari surga yang akan menjemput orangtua mu kelak. Doa pengampunan senantiasa kami kirimkan untukmu dan orang-orang yang telah membantumu. Doa perlawanan juga kami kirimkan untuk orang-orang yang yang hingga akhir hayatmu membuat susah orangtuamu.
Rest In Peace! Merdekalah jiwamu!

Mereka dan Bunda Theresa

Ketika hampir semua orang mengubah sila pertama Pancasila menjadi “Ke-uang-an yang mahaesa”, mereka tetap bertahan dengan prinsip “Ke-Tuhan-an yang Mahaesa”. “Tuhan tidak memanggil kita untuk mengejar kekayaan atau kesuksesan. Tuhan memanggil kita untuk mengabdi kepada-Nya,” ujar salah satu relawan yang mengutip semangat Bunda Theresa.

Para relawan Lingkar Donor juga manusia. Mereka butuh makan dan mereka butuh uang. Tapi, bagi mereka, uang bukan segalanya. Mereka punya cara bahagia yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang hari ini. Seringkali, keluarga pasien yang didampingi Lingkar Donor dan terpenuhi permintaan darahnya, mematerikan “Terima Kasih”-nya. Entah itu dalam bentuk makanan ataupun amplop. Sayangnya, bagi mereka keikhlasan tak bisa dihargai dengan rupiah-rupiah.

Suatu hari saya juga pernah merasakan bagaimana “bersilat” dengan keluarga pasien menolak pemberian rupiah. Saya sebut saja “keluarga pasien”, walaupun dia adalah seorang dokter yang mendampingi pasien mal praktek yang dirujuk dari Gorontalo. Sampai akhirnya dia menyerah, dia pun bertanya “Ini adek, kalau tidak mau terima uang, makannya dari mana?” Langsung dijawab oleh salah satu relawan Lingkar Donor “Yah, pakai uang pribadi, pak. Biasa juga ck-ck beli makanan. Hehehe”.

Siapapun yang berjaga. Dia harus punya “jurus menolak terima kasih”. Bagi mereka, “terima kasih” yang dimaterikan adalah A-I-B. Salah satu jurus mereka ialah “Kalau kita kasihka’ uang, tidak kubantu meki’ lagi itu, bu” Mereka pun tertawa setelah mengatakan seperti itu.

Saya pernah membaca di salah satu media, tulisan bertajuk “Lingkar Donor adalah Harapan Bagi yang Butuh Darah” (http://wartatimur.com/lingkar-donor-makasar-harapan-bagi-yang-butuh-darah.html)

Mereka mahasiswa Makassar, sampai detik saya tuliskan catatan ini, mereka masih mengangkat dan mengepalkan tangan kiri mereka. Mereka memilih jalan lain dalam meneriakkan “HIDUP MAHASISWA.. HIDUP RAKYAT”. Perjuangan tidak mereka anggap hanya dengan membakar ban, merusak fasilitas negara, atau berteriak mengutuk. Mereka datang di tengah kesusahan rakyat, ikut merasakan derita dan tangisan rakyat Indonesia. Saya mengutip tentang Lingkar Donor di halaman facebook-nya “Kepakan sayap kupu-kupu di Indonesia bisa menyebabkan tornado di amerika”. Semangat Bunda Theresa, dan juga pejuang kemanusiaan lainnya, hidup membara dalam dada mereka. (*)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com