Kamis, 28 Mei 2020

Kuliah Online di Tengah Wabah, Ini Kata Dosen dan Mahasiswa Makassar

2 bulan yang lalu | 5:17 am
Kuliah Online di Tengah Wabah,  Ini Kata Dosen  dan Mahasiswa Makassar

Baca juga

WARTATIMUR.COM – Menanggapi keputusan pemerintah yang menetapkan wabah covid-19 sebagai bencana nasional, membuat sejumlah instansi pendidikan di tanah air menerapkan gerakan social disctancing sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran virus yang berasal dari Wuhan China tersebut di tengah masyarakat. Hal ini seperti yang dilakukan oleh sejumlah instansi perguruan tinggi di Makassar yang menerapkan sistem kuliah online bagi mahasiswanya.

Adapun beberapa kampus seperti Universitas Hasanuddin (Unhas) , Universitas Negeri Makassar ( UNM) , Universitas Muslim Indonesia (UMI) , Universitas Fajar ( UNIFA) telah mengeluarkan kebijakan kepada tenaga pengajar dan mahasiswanya untuk mengubah metode kegiatan belajar mengajar berbasis online selama waktu yang diperlukan.

Perubahan sistem perkuliahan berbasis online membuat sejumlah universitas menghimbau para mahasiswa dan tenaga pendidik menggunakan beberapa server atau aplikasi kusus untuk mempermudah prosesi perkuliahan. Aplikasi seperti Google Classroom dan Zoom menjadi penunjang belajar jarak jauh mayoritas mahasiswa di Makassar .

“Imbauan dari kampus intinya kita menggunakan aplikasi pembelajaran yg mendukung sistem belajar jarak jauh , seperti Google classroom, Zoom untuk video conference, termasuk gmail/Yahoo mail ” kata Ummi Suci Fathiya Bailusy dosen dari Unhas.

Pengampu Mata Kuliah Umum Kewarganegaraan dan Pendidikan Pancasila ini mengungkap bahwa sebenarnya Unhas punya server yang bernama sikola untuk kuliah online namun sosialisasinya belum merata di seluruh tenaga pengajar termasuk dirinya , sehingga ia memutuskan untuk lebih menggunakan aplikasi yang disediakan oleh Google.

Dalam sistem perkuliahannya Ummi mengaku menerapkan sistem diskusi dengan mengajak mahasiswanya untuk melakukan riview terhadap beberapa materi yang telah ia jelaskan sebelumnya.

Perubahan metode mengajar dari tatap muka ke online ternyata tak sepenuhnya mempermudah tugas seorang tenaga pendidik untuk memberikan materi, bahkan ada yang mengaku kurang nyaman karena tidak terbiasa dengan metode baru seperti itu.

” Terus terang saya kurang nyaman dengan model kuliah begini karena prosesnya panjang untuk menjelaskan sesuatu sama mahasiswa. Saya lebih senang kuliah tatap muka karena bisa melihat ekspresi peserta kuliah dan mungkin lebih bisa mengukur penerimaan mahasiswa akan isi materi kuliah ” kata Zulhajar dosen ilmu politik Unhas.

Pengajar Sosiologi Politik ini juga mengungkapkan bahwa dirinya terbiasa berdiskusi dengan mahasiswa dan menulis langsung di papan tulis tanpa terbatasi oleh beberapa aplikasi presentasi seperti PowerPoint dan sebagainya.

Ketika ditanya terkait sistem penilaian yang diberikan kepada mahasiswa yang menjadi kendala dosen di perguruan tinggi ketika dihadapkan dengan sistem kuliah online, menurut alumni Ilmu politik UGM ini ia menilai mahasiswa berdasarkan kualitas argumennya selama prosesi kuliah online.

” soal penilaian saya melihat kualitas setiap argumen mereka dalam diskusi, meskipun terkadang masih tanda tanya juga soal argumentasi mereka itu asli dari pemikiran mereka atau copy paste dari sumber tertentu ketika mereka tiba-tiba memberikan respon yang menurut saya terlalu cepat ketika berdiskusi ” lanjut Zulhajar.

Pria yang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Unhas ini juga mengungkapkan bahwa kebijakan e-learning di sebuah kampus dapat maksimal ketika didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Ia cukup menyayangkan bahwa Unhas belum siap untuk ini terbukti dengan server milik kampus yang tiba-tiba eror ketika diakses secara serentak di awal perkuliahan online.

Dampak dari pemberian nilai yang dinilai kurang efektif ditengah kebijakan kuliah online yang tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai, juga dirasakan oleh sejumlah mahasiswa seperti Rosmiati Irfan mahasiswa jurusan pendidikan Biologi Universitas Negeri Makassar.

” selama kampus saya menerapkan kuliah online beban tugas kuliah menjadi dua kali lipat. Dosen tidak lagi menjelaskan, tapi kebanyakan memberikan tugas. Jadi bukan kuliah online-nya yang bikin berat, tapi tugas onlinenya ” kata mahasiswi semester delapan tersebut.

Hal serupa juga diungkapkan oleh mahasiswa ilmu Politik Fajar Widayanti mahasiswi ilmu politik dan Aulia mahasiswi Fakultas Pertanian Unhas.

” Bagaimana caranya tidak di rumah saja kalau tugas kuliah jadi lebih banyak , selain itu meskipun ada diskusi online dan dipandu oleh moderator tetap kurang efektif karena biasa antara mahasiswa juga tidak bisa kerjasama dan pembahasan materi kuliah tidak fokus ” kata Fajar.

Sementara itu Aulia seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pertanian Unhas dalam pengamatannya mengungkapkan bahwa kuliah online mempersulit mahasiswa semester awal  yang mengambil jurusan ilmu alam dimana mengharuskan mereka praktik dalam laboratorium.

” Kalau untuk mata kuliah yang materinya bisa didiskusikan mungkin sedikit lebih mudah. Namun di mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa bergulat dengan rumus dan  praktik laboratorium kemungkinan akan sedikit menyulitkan” kata mahasiswi semester delapan yang mengambil konsentrasi teknologi pertanian tersebut.

Menurutnya yang kini juga merangkap sebagai asisten laboratorium terkadang untuk sebagian mahasiswa di semester awal   perlu penjelasan secara langsung ketika  mempelajari rumus-rumus baru atau bahkan mengenal penggunaan bahan-bahan tertentu untuk penelitian di laboratorium. Ia juga mengungkapkan bahwasanya kegiatan praktikum laboratorium sedikit terganggu dengan kuliah online karena ada beberapa prosedur yang tak bisa diterapkan.

Sementara itu pandangan berbeda datang dari Nurwardah Fatimah mahasiswi Fakultas Kedokteran Unhas yang mengungkapkan bahwa di kedokteran justru telah terbiasa dengan menggunakan sistem online.

” mungkin sulit karena belum terbiasa, tapi untuk kami di fakultas kedokteran sendiri sudah terbiasa dengan menggunakan metode online seperti ini, bahkan jauh sebelum ada wabah Covid-19 ” tukasnya.

Menurut mahasiswi semester enam yang akrab disapa Wardah ini dirinya terbiasa dengan video – video pembelajaran yang telah disediakan oleh dosennya, bahkan tak jarang ada beberapa mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa live streaming di platform tertentu untuk mendengarkan beberapa materi dari dosen . Begitu pun soal beberapa matakuliah praktikum yang mewajibkan mahasiswanya untuk menggunakan beberapa video pembelajaran selama proses belajar mengajar berlangsung.

Bagaimana dengan kamu?


Penulis : ona mariani
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com