Minggu, 25 Juni 2017

“Kota yang Mengancam”

2 tahun yang lalu | 5:52 am
“Kota yang Mengancam”

Baca Juga

 

Rahmad M Arsyad (Direktur Riset IDEC)

Hari-hari ini, kita menyaksikan di Makassar aksi brutal sekelompok perampok yang mengatasnamakan geng motor dengan nekat membunuh korbannya, melakukan serangkain penjarahan di sejumlah cafe dan minimarket secara terang-terangan, dan seolah memiliki kekuasaan dengan leluasa menyerang siapa saja yang mereka jumpai saat berada di jalanan.

Inilah tanda-tanda kegagalan sebuah kota. Utamanya impian akan kota dunia. Atas alasan kemajuan dan modernisasi kota besar akan berkembang menjadi kota raya(metropolis), lalu menjadi kota mega (megapolis), untuk kemudian menjadi kota dunia (ecumenopolis).

Menurut saya yang terjadi di kota Makassar bukanlah kota ecumenopolis (kota dunia)  namun sebaliknya menjadi kota mayat (necropolis). Makassar telah berubah menjadi kota yang mengancam. Kota yang diingatkan oleh Peter Lang (1995) dengan istilah city war, kota peperangan yang juga mengingatkan saya pada sebuah film lawas “ City Of God”(2002) sebuah kota dimana kejahatan menjadi hal yang biasa, kekerasan menyebar di berbagai tempat akibat jurang kemiskinan yang kian terbuka lebar.

Satu persatu kota-kota indonesia yang menyampaikan dirinya sebagai kota moderen, maju, sampai kota dunia telah berubah menjadi kota kesedihan (city of sorrow). Padahal jauh hari sebelumnya, Peter G Rowe  lewat bukunya yang berjudul East Asia Moderen; Shaping the Contemporary City (2005) juga telah menganalisis “kecenderungan kecelakaan modernisasi kota-kota asia tenggara” yang dalam hemat saya sudah dialami oleh indonesia dan telah sampai di kota makassar.

Kota Dunia atau  Kota Geng Motor!

Dunia yang semakin “(meng)kota” dan kota yang semakin mendunia membawa aneka konsekuensi. Tak bisa disangkal pertumbuhan kota telah mendorong arus urbanisasi yang besar menuju kota. Bahkan pada abad ke-21 telah dicanangkan sebagai abad perkotaan, karena lebih dari separuh penduduk dunia akan berada di perkotaan.

Dengan semakin mengglobalnya kota, berbagai persoalan terus bermunculan salah satunya hilangnya identitas sebuah kota. Padahal sebuah kota Menurut Arnold Tonybee “tidak hanya merupakan pemukiman khusus, tetapi merupakan suatu ruang yang kompleks , dan setiap kota mesti menunjukkan perwujudan pribadinya masing-masing”.

Pertanyaanya, apakah kini ciri sebuah kota yang kita sebut Makassar ? Maka saya bisa dengan mudah menyebutkan Makassar kini dikenal dengan kota geng motor! Konsep kota dunia yang dicangkan oleh pemerintah kota sungguh jauh dari realitas kehadiran geng motor, yang tentu saja sangat tidak sesuai pula dengan smart city (kota cerdas) karena sungguh prilaku membunuh dan tindakan kekerasaan bukanlah gambaran dari sebuah kota cerdas namun wujud dari kota primitif yang  bar-bar!

Lantas siapakah yang paling bertangung jawab atas apa yang dilakukan oleh para geng motor tersebut ? Dalam buku, post moderen urbanism (1996) Nan Ellin seorang professor Arsitektur dari Arizona state University dengan berani menegaskan bahwa berbagai persoalan kota adalah akibat kesalahan para pelaku pengambil kebijakan dalam kota tersebut. “Mereka para pengambil kebijakan adalah orang yang paling berdosa atas berbagai kecelakaan dan kehidupan buruk yang menimpa rakyatnya”!

Kota yang Mengancam

Selain persoalan geng motor, berbagai persoalan pelik lainya dihadapi oleh warga kota Makassar. Mulai dari persampahan, kemacetan, krisis air bersih, sampai persoalan konflik kepemilikan tanah yang semakin menjamur. Dua program yang diluncurakan pemerintah kota Makassar melalui Makassar Tidak Rantasa (MTR) dan Makassar Smart City belum terasa manfaatnya bahkan terkesan hanya berakhir pada jargon semata.

Makassar telah menjadi kota yang mengancam kehidupan warganya, bayangkan bagaimana bisa sebuah kota dunia dalam kehidupanya keseharian warganya bersama kubangan sampah. Saya menyaksikan sendiri bagaimana mobil bak sampah terbuka yang dikerumuni jutaan lalat berkeliling mengancam kesehatan warga.

Merasakan bagaimana kemacetan Makassar akhir-akhir ini yang semakin parah, dibuat pusing ketika Air PDAM mati. Menonton ketika puluhan kepala keluarga mesti tergusur dengan cara paksa karena konflik kepemilikan lahan antara warga kecil dengan seorang pengusaha kaya.

Semua soal ini, menunjukan bahwa Makassar bukanlah kota dunia yang nyaman. Karena menurut saya, Makassar justru sedang mengikuti jejak Jakarta sebagai “city of sorrow” (kota kesedihan). Ketika warga tak merasakan lagi kehidupan dan kenyamanan sebuah kota  maka kota tersebut sedang menuju zoo city bukan humanity city.

Padahal sebagai warga kota, saya dan keluarga saya berharap dengan tampilnya seorang pakar tata kota, seorang ahli perencana wilayah, “anak lorongnya Makassar” menjadi walikota, wajah Makassar yang keras sebagaimana ditampilkan oleh para pelaku geng motor tidak lagi ditemukan.

Makassar yang rantasa sesuai dengan program Makassar tidak rantasa, Makassar kota cerdas dengan berbasis sistem Informasi Teknologi, serta berbagai program hebat lainnya menjadikan kota Makassar menjadi contoh sebuah kota yang memiliki ciri peradaban maju. Sebuah kota masa depan yang penuh dengan harapan memanusiakan.

Karena jika Nan Ellin penulis buku urbanisasi dan post modernism itu menuduh bahwa berbagai dosa atas persoalan kota adalah akibat kesalahan para pelaku pengambil kebijakan dalam kota tersebut,  maka seorang walikota Makassar akan mendapatkan dua dosa sekaligus, yakni sebagai seorang pakar perencana wilayah dan sekaligus walikota Makassar jika tidak mampu mengubah kota yang mengancam menuju kota yang membahagiakan.

Walau tentu saja, sekali lagi tanggung jawab dan masa depan kota bukan hanya ada ditangan walikota Makassar namun menjadi tanggung jawab kita semua untu merawat kota masa depan. Agar Makassar tidak berakhir menjadi seperti “Gotham city” karena kita belum memiliki seorang Batman!

 


Penulis : ABR
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com