Jum'at, 21 September 2018

Kaum Ibu Harus Terdidik!

4 tahun yang lalu | 3:36 am
Kaum Ibu Harus Terdidik!

Baca Juga

 

Oleh: Asri Abdullah (Direktur Eksekutif IDEC Makassar/ Penerima beasiswa Jurnalis AJI Makassar 2014)

“Kaum Ibu harus terdidik. …. Karena dari perempuanlah orang menerima pendidikan yang pertama. Di pangkuan Ibu, seorang anak belajar merasa, berpikir, dan bicara. Bagaimana mungkin Ibu-ibu bisa mendidik anak mereka jika mereka sendiri tidak terdidik…”

Kalimat di atas sangat mengerti peranan seorang Ibu dalam kehidupan. Tak ada yang menafikan tugas dan peranan Ibu dalam rumah tangga. Ibu menjadi pusat pengetahuan bagi anaknya. Untuk itu, sebagai titik awal pemberi pengetahuan, Ibu tak hanya memiliki tugas memenuhi kebutuhan materi semata, tapi juga pengetahuan.

Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember 2013 lalu menjadi momentum terbaik untuk mengingatkan para Ibu terkhusus mereka calon Ibu tentang peranan penting kaum Ibu. Pandangan yang menilai Ibu hanya sebagai perempuan yang menyusui, merawat dan membesarkan anak, tak lengkap jika tak dilekatkan dengan pandangan yang menilai Ibu adalah “perpustakaan” bagi anak-anaknya.

Seorang ibu tidak mesti menyerahkan penuh pendidikan anaknya di sekolah, apalagi berharap sekolah mengajarkan perilaku dan etik dalam kehidupan. Tak banyak yang bisa diharap dari sekolah-sekolah formal, selain meningkatkan kapasitas intelektual dan kemampuan anak dalam mengkuantifikasi realitas melalui angka-angka. Tidak lebih. Pengetahuan tentang baik dan buruk, tata krama, dan sikap hanya didapatkan di rumah.

Sekolah di rumah
Seorang anak siapapun dia, pasti lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Meskipun berstatus sebagai siswa SD yang tengah menjalani proses pendidikan formal dan non formal. Waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah dibandingkan di sekolah. Sekolah hanya menyita waktu anak paling lama 3 jam, selebihnya di rumah.

Olehnya itu, penghuni rumah yang biasanya didominasi oleh kalangan perempuan yang bekerja di rumah menjadi guru utama dalam kehidupan anak. Selain waktunya yang cukup lama, batas-batas hubungan anak dan Ibu tak lagi dipisahkan oleh fungsi administrasi seperti di sekolah. Karena itu, menjadi ibu berarti juga menjadi guru bagi anak-anaknya. Guru yang tidak hanya menjadi pengajar dengan batas waktu tertentu, tapi guru tanpa batas waktu dan jam mengajar.

Sekolah di rumah tidak harus ada gambar presiden dan wakil presiden yang terpasang di dinding. Sekolah di rumah juga tidak mensyaratkan ada lonceng penanda pelajaran selesai dan dimulainya pelajaran. Sekolah di rumah adalah sekolah seperti arti kata sekolah yang berarti “waktu luang”. Waktu yang dimanfaatkan oleh ibu untuk mendidik, dan mengajar.

Pandangan Kemendikbud yang meletakkan taruhan masa depan bangsa di sekolah, atau pada kurikulum adalah pandangan yang keliru. Taruhan terbesar pendidikan di tanah air justru berada pada keluarga di rumah. Karena itu, mengapa peranan Ibu dalam pendidikan atau mendidik anak sangat penting dan tak bisa disepelekan. Kaum ibu harus terdidik, sehingga anak-anaknya juga menjadi terdidik.

Sugata Mitra, Profesor Teknologi Pendidikan mengatakan, sekolah sudah kuno, tidak kita butuhkan lagi. Dia mengusulkan perlunya self-organized learning environment (SOLE) sebagai model pendidikan baru. Keluarga adalah salah satu model SOLE terbaik yang pernah ada dan di planet ini. Ki Hadjar Dewantara pun memandang keluarga menjadi tempat belajar terbaik, terutama bagi anak usia dini.

Sekolah di rumah berfokus pada pemberdayaan diri dan keluarga. Logika pendidikan sekolah mengajarkan: makin banyak bersekolah kita akan terdidik. Makin banyak rumah sakit kita akan semakin sehat. Makin banyak kantor polisi kita akan semakin tertib. Makin banyak tentara, senjata dan tank kita semakin aman. Semakin banyak gereja dan masjid kita semakin religius. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya: kita semakin tidak terdidik, tidak sehat, tidak tertib, tidak aman, dan tidak religius.

Perkembangan teknologi juga semakin mempertegas bahwa kita tidak membutuhkan sekolah. Google telah banyak menggantikan peranan guru di sekolah. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di dalam rumah.

Menerabas patriarki
Ibu pasti perempuan, tidak semua perempuan adalah Ibu. Budaya yang menempatkan perempuan di dalam rumah dengan berbagai klasifikasi pekerjaannya mesti dibuang jauh-jauh. Pandangan yang menilai perempuan sebagai kelompok yang lemah adalah hal yang keliru. Ibu sebagai perempuan lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja dibandingkan laki-laki. Pekerjaan laki-laki di kantoran paling banyak memakan waktu 9 jam per hari. Sementara Ibu lebih dari itu ketika berada di dalam rumah, apalagi berada di luar rumah.

Budaya patriarki yang cenderung merugikan kaum Ibu sebagai perempuan mesti diterabas dengan perspektif gender yang melihat perempuan memiliki hak yang sama dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hanya dengan perspektif inilah Ibu-Ibu mampu memaksimalkan peranannya sebagai orang pertama yang memberikan pendidikan bagi anak-anaknya.

Di hari Ibu, juga menjadi penting untuk melihat kekerasan-kekerasan yang menimpa kaum Ibu seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pengkucilan terhadap pekerja seks utamanya perempuan yang selalu dirugikan, dan human trafikcing. Selamat hari ibu juga pantas disampaikan kepada ribuan bahkan jutaan pekerja seks yang juga sebagai seorang Ibu.

Banyaknya kasus kekerasan yang menimpa perempuan, khususnya para Ibu sebagai pahlawan rumah tangga harus menjadi catatan serius pemerintah. Hari Ibu bukanlah hari di mana setiap orang akan mengatakan “selamat hari Ibu” kepada Ibu mereka dan kepada mereka yang telah menjadi Ibu.

Semoga hari Ibu tidak sekedar menjadi seremonial belaka yang berupa ucapan selamat, setelah itu dilupakan, seperti melupakan barang yang tertinggal di suatu tempat. Hari Ibu mestinya tidak hanya digelar satu hari saja, karena setiap hari adalah hari Ibu. Semoga di hari Ibu kali ini, mereka para Ibu sadar, bahwa mustahil menjadikan anak mereka terdidik, jika dirinya sendiri tidak terdidik. (*)


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com