Selasa, 12 November 2019

Kapolda : Pinisi Pusaka Angkat Budaya Leluhur

4 tahun yang lalu | 5:48 pm
Kapolda : Pinisi Pusaka Angkat Budaya Leluhur

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (27/8/2015) – Kepala Polisi Daerah Sulawesi Selatan dan Barat Irjen Anton Setiadji menyatakan gagasan pembuatan kapal pinisi di Makassar bertujuan selain meningkatkan minat wisatawan juga mengangkat warisan budaya leluhur.

“Ini sebagai bentuk saya selaku warga Sulsel mengangkat budaya leluhur. Selain itu ini kenang-kenangan saya selama bertugas di Makassar,” ujarnya usai peluncuran kapal pinisi tersebut di anjung Pandang, Makassar, Rabu.

Menurut dia pembuatan Kapal Layar Motor (KLM) bernama Pinisi Pusaka Indonesia adalah hal luar biasa karena dikerjakan di Kota Makassar yang selama ini pembuatan kapal khas suku bugis itu di Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulsel.

“Kalau dibuat di Bulukumba itu biasa saja, ini kan dibuat di Makassar, hanya pembuatnya saja yang didatangkan kemari. Selain itu bertujuan memberikan edukasi dan penarik wisatawan. Pinisi ini akan di komersilkan untuk biaya pemeliharaannya,” paparnya.

Pada kesempatan itu Anton didaulat memegang tali Kapal Pinisi guna menarik kapal dibantu ratusan anggota gabungan Polri dan TNI AL diarungkan ke laut setelah dilakukan prosesi ritual pelepasan kapal tersebut.

Pengerjaan kapal pinisi tersebut yang berada persis di depan Benteng Rotterdam memakan waktu lima bulan dua minggu dengan panjang 26,5 meter dan lebar 5,4 meter serta tinggi 3 meter kemudian layar kain setinggi 18 meter.

Perahu Pinisi Pusaka ini menelan anggaran Rp2,3 miliar berasal dari dana Pribadi Kapolda Sulselbar Irjen Anton Setiadji, dikerjakan lima ahli perakit kapal dari Desa Ara dibantu 20 anggota dari Desa Tana Beru Kabupaten Bulukumba.

Peluncuran kapal tersebut menunggu air laut pasang dan pada bagian bawah kapal diberikan bantalan kayu bulat dan menggunakan katrol sebagai pengatur keseimbangan saat diluncurkan ke laut.

“Anggaran yang lebih banyak diberikan Pak Anton hingga selesainya penegerjaan. Kapal ini akan di apungkan kira-kira dua bulan untuk penyelesaian akhir,” sebut penangggungjawab pembuatan kapal Rudi T Mintarto.

Ia menyebutkan Pinisi Pusaka Indonesia ini terbuat dari bahan kayu besi untuk lambung kapal, kayu jati untuk lantai dan dinding kapal, sedangkan kayu bitti diperuntukkan pada bagian siku kapal, dan kayu pade bagian rangka kapal.

“Selanjutnya pengelolaan KLM Pinisi Pusaka Indonesia ini akan dikelola perusahaan dan yayasan sosial sebagai bentuk pemeliharaan. Ide pembuatan kapal ini dari hasil diskusi kemudian ditindaklanjuti pak Anton,” bebernya.

Sebelumnya Kapal Pinisi Pusaka Indonesia saat diluncurkan ditandai dengan membunyikan alarm secara bersamaan yang dilakukan Kapolda Sulselbar Irjen Pol Anton Setiadji, Ketua REI Sulsel, serta perwakilan pejabat dari TNI AU, AD, dan AL.

Pembuatan kapal Pinisi Pusaka Indonesia itu sebelum diluncurkan menjadi daya tarik tersendiri baik bagi wisatawan yang ingin melihat langsung proses pembuatan kapal legenda asal Sulsel itu tanpa harus ke tempat pembuatan aslinya. Bahkan sejumlah pelajar dari berbagai sekolah dan mahasiswa tertarik melihat pembuatan kapal tersebut.

Pinisi Pusaka Indonesia ini diharapkan menjadi media pendukung edukasi budaya khususnya tradisi maritim kepada anak usia dini, pelajar, mahasiswa dan umum untuk mempertahankan nilai tradisinya. (*)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com