Senin, 23 Oktober 2017

Ini Alasan Sederhana Mengapa Kita Harus Minum Sarabba

4 bulan yang lalu | 3:47 am
Ini Alasan Sederhana Mengapa Kita Harus Minum Sarabba

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (5/6/2017) – Meski Sarabba adalah minuman khas Sulawesi Selatan, sudah banyak orang, selain orang Makassar yang bisa membuatnya apalagi mengomersilkannya. Nah, satu pedagang Sarabba di deretan Jl Sungai Cerekang Makassar, lantas mengomentari fenomena tersebut.

“Banyak hal yang bisa kita kelola dalam bisnis, misalnya kuliner. Dan usaha Sarabba ini pun menjanjikan omzet. Selain itu, usaha Sarabba merupakan wujud pelestarian destinasi kuliner khas Makassar,” ujar pemilik usaha Sarabba Sungai Carekang (Sucer), Ida Syahrul. Orang-orang biasanya memanggil Ida dengan sebutan “Bunda”.

Bunda merasakannya sendiri. Usaha yang kini digelutinya terbukti moncer. Didirikan sejak 2012 silam, konsumennya terus meningkat. Bukan hanya masyarakat Makassar, namun juga dari berbagai daerah di Indonesia hingga dari luar negeri yang merapat di tempatnya. Belum lagi jika masuk musim hujan, pembeli pasti ramai di tempatnya.

Tak hanya menambah pemasukan, Bunda juga mengaku kalau Sarabba bisa menyehatkan tubuh konsumen. Kasarnya, uang yang Anda keluarkan, tidak sia-sia. Soal rasa? Jangan ditanya. Bayangkan jika gula bercampur jahe hangat melumer membasahi lidah. Langit-langit mulut juga dirembesi kehangatannya. Apalagi jika bercampur telur. Sudah pasti lezat. Jika Anda merasa kedinginan, minuman ini lebih terasa dua kali lipat dari biasanya.

“Bagaimana tidak, diolah dari bahan dasar jahe dan gula merah. Ada juga rempah-rempah yang menyehatkan di dalamnya. Ada juga telur ayam kampungnya.”

“Saya yakin juga tidak sia-sia pembeli untuk dapat itu. Lagipula harganya tidak mahal kok,” tutur Bunda.

Ditaksir harga segelasnya, memang bervariasi. Dari sana, Bunda bisa mematok omzet harian yang akan diraup. Termurah, ia mematok harga Rp7 ribu, dan termahal Rp13 ribu. “Kalau omzetnya itu sekira Rp700 ribu hingga Rp1 juta per hari. Nilai di atas, harus dibagikan lagi kepada tiga orang pegawai,” bebernya.

Konsep penjualannya pun masih tradisional. Pembeli bisa datang, duduk di meja yang disediakan, lalu memesan Sarabba. Kalau ingin mengunyah gorengang dan mencocol sambal tumisnya, bisa juga jika memang ingin.

Akhirnya, Bunda berharap, ke depannya pemangkukepentingan dan pelaku wisata khususnya perhotelan, mampu bekerjasama dengan pedagang Sarabba untuk mengakomodir peraciknya. Alasannya, agar cita rasa tetap terjaga. “Sebab Sarabba sudah menjadi salah satu destinasi khas Kota Makassar dan Sulsel. Jadi harus dijaga rasanya,” tukas Ida Syahrul.


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com