Selasa, 12 November 2019

Idul Fitri: Jalan Kembali ke Fitrah Manusia

6 tahun yang lalu | 3:33 pm
Idul Fitri: Jalan Kembali ke Fitrah Manusia

Baca Juga

(Sebuah perspektif filosofis)

Oleh : Andi Faisal Al Mortheza (Alumni STIEM, Makassar)

“Untuk mengenali dirimu, lihatlah tubuhmu, untuk mengenali tubuhmu lihatlah hatimu, untuk mengenali hatimu, lihatlah wujudmu”

Kalimat ini mengingatkan penulis pada ucapan dari seorang pemikir agung, Socrates yang pernah mengucapkan, “Kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal tuhanmu.” Awalnya penulis agak sukar memahami maksud dari ucapan Socrates ini, bagaimana bisa pengenalan terhadap diri langsung membawa kita pada pengenalan terhadap Tuhan?.

Pengenalan seperti apakah yang dimaksud? Bukankah hari ini sains medical telah menyingkap tentang anatomi manusia, dan sains psikologi juga telah berhasil memasuki relung-relung jiwa manusia. Contohnya, Freud dengan psikoanalisisnya, menjustifikasi manusia sebagai mahluk yang mencari kenikmatan, atau Karl Gustaf Jung dengan psikologi humanisnya yang menganggap manusia sebagai makhluk yang memiliki spiritual feeling. Teori-teori ini hanya lewat begitu saja, tanpa memberikan apa-apa selain kegersangan hidup.

Pengenalan kita terhadap Tuhan, mestinya bersifat pengenalan yang nonrepsentasional dan gradatif (iluminatif). Maksudnya, kata pengenalan sebagai keyword kalimat di atas harus dikaji lebih dulu, apakah pengenalan yang dimaksud adalah pengenalan korespondensi yaitu pengenalan kita terhadap sebuah objek berdasarkan pengamatan/analisis terhadap objek tersebut.

Dalam arti ada sesuatu berada di luar diri kita, yang kemudian dapat diamati sehingga terjadi pengenalan terhadap sesuatu tersebut. Ataukah pengenalannya itu bersifat immanen yakni mengamati fakultas-fakultas yang ada dalam jiwa (kondisi kejiwaan, rasa marah, takut) sehingga lahirlah pengenalan terhadap fakultas tersebut.

Tentu saja jawaban yang benar adalah pengenalan yang dimaksud merupakan pengenalan yang bersifat immanen. Diri kita bukanlah sesuatu yang ada di luar diri kita., tapi diri kita adalah sesuatu yang senantiasa bersama kita.

Olehnya itu jika ingin mengenal diri sendiri, yang pertama dilakukan adalah memisahkan yang mana diri kita dan yang mana bukan diri kita. Contohnya, status sosial, dan tingkat pendidikan.

Jika demikian, tentunya yang harus diketahui adalah alat apa yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan/pengenalan ini?. Awalnya penulis meyakini bahwa setiap pengetahuan mestilah menggunakan akal sebagai perangkat analisis. Akal adalah ukuran nilai baik-buruk dan benar-salah. Akan tetapi, ternyata manusia masih memiliki satu alat pengetahuan yang disebut hati.

Dalam Al-Quran juga terdapat ayat yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah SWT menciptakan pada manusia penglihatan dan pendengaran serta hati agar manusia itu bersyukur. Disini secara jelas tersirat, bahwa hati adalah juga alat pengetahuan. Dalam filsafat, hati disebut juga dengan akal yaitu akal intuitif bukan akal oposisi biner.

Dalam wacana posmodernisme, dijelaskan bahwa realitas adalah konstruk bahasa. Maksudnya apa yang kita katakan sebagai realitas adalah justifikasi permainan bahasa atau dengan kata lain, semua pengetahuan kita hanyalah susunan dari bahasa. Bahasa baru dikatakan bermakna jika mengkonstruksi faktanya. Olehnya itu, apa yang kita sebut dengan pengenalan intuitif hanyalah rekayasa bahasa saja yang tidak memiliki nilai.

Akan tetapi, argument kaum posmodernis ini dapat dibantah dengan mengembalikan mereka ke fakultas kejiwaannya, misalnya ketika dia lapar pasti dia akan mencari makanan, dalam arti lapar adalah sebuah kondisi jiwa dan muncul dalam bentuk konsepsi “saya ingin makan” dan konsepsi ini yang membuat manusia bertindak untuk mencari makanan. Artinya, kondisi kejiwaan lapar adalah realitas yang terpahami secara nonrepresentasional seperti sebuah realitas baru yang terpahami secara representasional (korespondensi).

Dengan demikian, anggapan kaum posmedernis bahwa pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan yang tidak memiliki nilai tidak dapat kita terima.

Yang kedua, bersifat gradatif/iluminatif. Pengenalan kita terhadap Tuhan mesti melewati beberapa titik pengenalan sebelumnya. Sejalan dengan teori gerak substansi, bahwa manusia senantiasa bergerak menuju kesempurnaan.

Pada awalnya, manusia merenungkan tentang tubuhnya kemudian perenungan ini mengantar ke perenungannya terhadap jiwanya, perenungan terhadap jiwa ini kemudian mengantar keperenungan tentang wujud (keberadaan). Perenungan tentang wujud mengantar kita ke pengenalan terhadap wujud mutlak yang biasa kita sebut dengan kata Tuhan, inilah fase gerak kesadaran manusia.

Manusia ketika merenung akan jiwanya, maka dia akan mendapati bahwa jiwanya cenderung untuk mencintai keindahan, keadilan, kebenaran, kehakikian dan kesempurnaan yang mana kesemua ini adalah nafs Ilahi yang terwejantahkan dalam jiwa manusia.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari terkadang semua ini menjelma dalam bentuknya yang lebih rendah, misalnya kegandrungan akan keindahan turun dalam bentuk kecintaan akan kecantikan wajah, kegandrungan akan kehakikian turun dalam bentuk selalu ingin awet muda, dan kegandrungan akan kesempurnaan turun dalam bentuk status sosial (sukses).

Kecendrungan-kecendrungan yang ada dalam jiwa manusia di atas itu disebut fitrah, kecendrungan ini lahir sebagai konsekuensi pemberian wujud dari Tuhan kepada manusia. Wujud yang dimiliki ini seluruhnya bersumber dari Tuhan. Olehnya itu, kualitas-kualitas yang ada pada wujud Tuhan juga teremanasi secara potensial kepada wujud manusia.

Karena sifatnya yang potensial, maka kecendrungan-kecendrungan ini tidak langsung terpatri kuat dalam jiwa manusia, akan tetapi membutuhkan media-media yang mana dengan media itu kecendrungan ilahiah ini teraktual dalam jiwa manusia. Olehnya itu, Tuhan menurunkan syariat kepada manusia, dengan syariat inilah maka fitrah manusia akan terbangun dan dengan fitrah itu manusia akan berjalan menuju Tuhannya.

Dengan alasan inilah mengapa hari raya Idul Fitri disebut sebagai hari lahirnya manusia dengan keadaan suci. karena di hari ini fitrah-fitrah ilahiah yang ada dalam diri manusia telah teraktual setelah sebulan penuh berusaha untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan semesta alam. Dan, mudah-mudahan kita termasuk salah satu orang yang dimaksud. Selamat Hari raya Idul Fitri. (*)

Editor: Asri


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com