Kamis, 19 Oktober 2017

Hukuman Mati untuk Pembunuh Angeline

2 tahun yang lalu | 3:49 am
Hukuman Mati untuk Pembunuh Angeline

Baca Juga

MEDAN, WARTATIMUR.COM (30/6/2015) – Komisi Perlindungan Anak Indonesia Sumatra Utara menilai pelaku pembunuhan gadis cantik Angeline (8), pelajar kelas 2 Sekolah Dasar di Bali, wajar dijerat dengan hukuman mati.

“Tersangka MM (60) yang merupakan pelaku utama yang telah merencanakan pembunuhan terhadap anak angkatnya Angeline wajar dihukum mati,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut, Zahrin Piliang.

Zahrin mengatakan, semua kedok yang dilakukan tersangka untuk menutupi perbuatannya, akhirnya terbongkar juga.

Hal itu berkat kejelian penyidik Polda Bali dalam membongkar kasus pembunuhan tersebut.

“Saya juga sudah menduga bahwa tersangka itu sebagai otak tindakan yang menghabisi nyawa Angeline dengan cara menyuruh pembantunya, tersangka Agus,” katanya.

Menurutnya, pelaku pembunuhan itu dinilai benar-benar tidak mempunyai prikemanusian karena menyiksa korban terlebih dahulu, dan setelah mati menguburnya di belakang rumah yang dekat dengan kandang ayam.

Selain itu, tindakan yang dilakukan tersangka juga sangat keji karena yang dibunuh itu adalah anak angkatnya yang telah diadopsi.

“Ini dapat dijadikan sebagai pengalaman yang berharga bagi ibu-ibu yang mengadopsi anak agar ke depan jangan terulang lagi,” kata mantan anggota DPRD Sumut itu.

Menurut catatan, Angeline diadopsi oleh Margriet saat masih berusia tiga hari. Gadis cilik itu diadopsi karena faktor ekonomi orang tua kandungnya yang tidak mampu membayar biaya persalinan dan perawatan.

Angeline ditemukan tewas di belakang halaman rumahnya pada 10 Juni 2015 setelah awalnya dikabarkan hilang oleh ibu angkatnya, Margriet pada 16 Mei 2015.

Tolak Diperiksa

Sebelumnya, pengacara ibu angkat Angeline, Margriet Megawe, Aldren Napitupulu, mengatakan kliennya heran ditetapkan sebagai tersangka.

“Klien kami heran, tak menyangka, semula pelapor, kok jadi tersangka diduga membunuh anak yang sudah diasuh delapan tahun,” katanya, Selasa (30/6/2015) dalam wawancara yang ditayangkan TV One.

Dikatakan, Margriet akan diam dan tak mau diperiksa penyidik. Margriet akan berbicara saat di pengadilan. Penolakan diperiksa itu berdasarkan penilaian bahwa penetapan Margriet sebagai tersangka karena tekanan publik.

“Kami ingin kasus ini cepat selesai, tapi jangan ada pihak yang menghakimi sebelum sidang di penagdilan. Jangan berdasarkan kecurigaan, penyidikan ini masih samar,” kata Aldren.

“Nanti yang jelas akan diputuskan di pengadilan.” (NM)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com