Kamis, 28 Mei 2020

Festival “Battu Ratema Ribulang” Padukan Tiga Unsur

4 tahun yang lalu | 12:14 pm
Festival “Battu Ratema Ribulang” Padukan Tiga Unsur

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (9/3/2016) – Festival Battu Ratema Ri Bulang (Saya sudah dari bulan) yang digelar dalam menyambut Gerhana Matahari di Makassar memadukan tiga unsur sekaligus.

“Festival Battu Ratema Ri Bulang ini memadukan tiga unsur sekaligus. Unsur pertama itu pastinya relijius, kedua pendidikan dan ketiga unsur budaya,” kata Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto di Makassar, Rabu.

Menurut dia, berkumpulnya seluruh elemen masyarakat, pemerintah, TNI, dan Polri di anjungan Pantai Losari menunjukkan kekompakan warga kota dalam festival yang mungkin hanya sekali dilaksanakan ini.

“Ini adalah peristiwa semesta yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Berkumpulnya seluruh masyarakat di sini sebagai wujud rasa syukur kita. Ini menunjukkan kita kompak dan ini modal sosial bagi pemerintah,” ucapnya.

Danny (sapaan akrab wali kota) mengatakan Festival Gerhana Matahari Total (FGMT) Battu Ratema Ri Bulang ini tetap mempertunjukan unsur budaya Sulsel yakni kesenian Sinrilik dengan dibawakan langsung sang maestro, Syarifuddin Daeng Tutu.

Dia mengaku jika semua kegiatan FGMT Battu Rate Ma ri Bulang ini akan didokumentasikan dan akan dipajang di Museum Kota Makassar untuk mengenang FGMT Battu Rate Ma Ri Bulang.

“Jadi FGMT Battu Ratema Ri Bulang ini akan didokumentasikan kemudian kita simpan baik-baik di museum kota. Juga akan diletakkan batu prasasti di Anjungan Pantai Losari untuk mengenang peristiwa yang sama,” katanya.

Sementara itu, astronom dari Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Irwan Slamet mengatakan, di Makassar, Gerhana Matahari hanya mencapai 88 persen yang terjadi tepat Pukul 08.35 Wita.

Selama 1 menit 22 detik warga yang memadati anjungan Pantai Losari dapat melihat pada layar besar yang disiapkan di mana bulan secara perlahan-lahan menutupi matahari hingga 88 persen.

Menurut dia, kontak pertama matahari dan bulan terjadi pada Pukul 07.26 Wita, dan eclipse sebesar 88 persen terjadi pada Pukul 08.35 Wita. Kemudian kontak terakhir antara bulan dan matahari terjadi pada Pukul 09.55 Wita.

“Gerhana Matahari Total pada titik yang sama bisa terjadi 375 tahun lagi, ini menunjukkan kebesaran Ilahi,” tutur Irwan.

Ustadz Khalid Basalamah dalam ceramahnya menyampaikan, peristiwa gerhana matahari total merupakan peristiwa semesta yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang harus disyukuri.

“Mensyukuri nikmat, dan kebesaran Allah SWT ditunjukkan dengan mengikuti perintah dan larangannya yang disampaikan melalui nabi dan rasul-rasulnya,” ungkap Ustadz Khalid yang juga jebolan Universitas Madinah, Arab Saudi. (Ant)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com