Sabtu, 19 Oktober 2019

Di Balik Kontes Ratu Sejagad “Miss World”

6 tahun yang lalu | 5:45 am
Di Balik Kontes Ratu Sejagad “Miss World”

Baca Juga

Oleh: Syifaiyah (Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas/ Anggota Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)

Kontes kecantikan Miss World 2013 yang akan diadakan di Indonesia September nanti terus mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan beberapa ormas Islam dengan tegas menolak penyelenggaraan kontes tersebut. Sebagaimana diungkapkan Ketua MUI pusat bidang luar negeri KH Muhyidin Junaedi bahwa “MUI dengan tegas menolak acara kontes kecantikan bernama Miss World 2013 yang akan digelar bulan September mendatang” (muslimdaily.net, 06/13). Meski dikabarkan tidak akan ada kontes bikini pada final Miss World 2013 di Bogor, namun MUI tetap menolak tegas pelaksanaan pemilihan ‘ratu sejagad’ itu. Alasannya, karena kontes syahwat ini akan merusak akhlak generasi muda bangsa.

Selama ini memang banyak penolakan yang dilakukan berbagai kalangan karena adanya kontes bikini pada ajang Miss World tersebut. Untuk mengakomodir berbagai penentangan, panitia menghilangkan sesi penggunaan bikini dan menggantinya dengan kain bali, dengan harapan bahwa masyarakat dan orang-orang yang kontra akan mendukung perhelatan Miss World. Gubernur Jawa Barat Heryawan sebagaimana dikutip jpnn.com (4/4) juga menjelaskan bahwa Miss World 2013 ini akan berbeda dari biasanya karena tidak ada sesi penggunaan bikini. “ini lebih sopan dan bertatakrama, sehingga jauh dari kesan-kesan negatif,” ucapnya seraya menawarkan penggunaan pakaian adat khas Indonesia yakni kebaya.

Lantas apakah penolakan kontes Miss World memang hanya karena bikini? Sehingga akan menjadi boleh dan diterima jika kontes bikininya dihilangkan?

Dari Bikini ke 3B (beauty, brain, behaviour)

Ajang Miss World yang pertama kali diselenggarakan di Inggris pada 1951 pada awalnya memang merupakan “bikini contest festival”. Kontes yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan pakaian renang untuk memilih model yang akan mempromosikan produknya. Sejak pertama kali diselenggarakan, kontes ini memang ditujukan untuk kepentingan bisnis. Selanjutnya, dipopulerkan oleh media menjadi kontes kecantikan bernama Miss World, dan bikini contest tetap menjadi sesi wajib setiap penyelenggaraan ajang Miss World di berbagai dunia. Para finalis Miss World akan dijadikan sebagai ikon bagi produk-produk kecantikan, fashion, pakaian renang, bintang majalah, televisi maupun koran.

Kontes Miss World ini sangat diminati oleh televisi karena sejak awal bisa mendatangkan pemirsa sangat besar, mengalahkan olimpiade dan piala dunia (sepak bola). Bahkan, ajang ini sekarang diklaim ditonton oleh lebih dari satu miliar pasang mata di seluruh dunia. Dan, sejak tahun 2000 ajang ini berkembang menjadi sebuah bisnis raksasa global, Miss World yang berpusat di London ini membuat waralaba (franchise) dan sudah dibeli di 130 negara dengan penghasilan mencapai 450 juta dolar.

Jadi, sudah sangat jelas bahwa kontes Miss World ini sebenarnya adalah ajang bisnis dengan memanfaatkan kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan. Hingga tak salah banyak pihak menuduh kontes-kontes semacam ini baik skala lokal (putri Indonesia, miss Indonesia) maupun internasional (miss world, miss universe) merupakan ajang eksploitasi perempuan demi kepentingan para kapitalis.

Bahkan kritik semacam ini pernah disampaikan Dr Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam bukunya yang berjudul “Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran” tahun 2006. Meski dikenal sekular, beliau menyampaikan kritik keras terhadap kontes-kontesan semacam Miss World, beliau menilai: “Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetik, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah”.

Agar kontes ini lebih elegan dan tidak terkesan murahan, maka sejak tahun 1980-an barulah peserta Miss World diharuskan mengikuti tes kecerdasan dan kepribadian. Sejak itulah mulai diperkenalkan konsep 3B (beauty, brain and behaviour). Konsep 3B itu pada hakikatnya hanyalah topeng untuk mengaburkan tujuan yang sebenarnya, selain untuk mencegah resistensi masyarakat dari sekedar kontes cantik-cantikan yang tidak bermanfaat. Karena pada dasarnya tetap saja kecantikanlah yang dijadikan poin penilaian utama, bukan brain atau behaviour. Fakta menunjukkan secerdas dan sebaik apapun kepribadian seorang perempuan, tak akan pernah menjadi kontestan Miss World jika tak cantik?

Islam memelihara kehormatan dan kemuliaan perempuan

Indonesia, sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia harusnya bersatu padu menolak ajang Miss World ini. Ini adalah sebuah penghinaan besar bagi kaum muslim di negeri ini. Islam yang sangat memelihara kehormatan dan melindungi kaum perempuan akan dihancurkan dengan kontes pamer aurat ini. Dalam Islam perempuan diwajibkan menutup aurat agar kehormatannya tetap terpelihara dan hanya layak ditampakkan hanya kepada mahromnya. Akan tetapi, ajang Miss World ini akan menghancurkan itu semua dengan sengaja menjadikan tubuh perempuan sebagai pajangan, tontonan dan bahan penilaian.

Begitu juga dengan iming-iming sejuta manfaat yang akan diterima bangsa Indonesia dengan adanya event ini hanyalah taktik untuk memuluskan penyelenggaraan semata. Karena efek dan kerusakan yang akan ditimbulkan dengan adanya kontes ini jauh lebih besar. Pertama, di dalam kontes Miss World ada aktifitas maksiat, diantaranya adalah memperlihatkan kecantikan dan aurat perempuan. Generasi muda dan kalangan masyarakat awam akan menjadikan kontes yang penuh maksiat ini sebagai contoh dan akan merusak akhlak. Kedua, kontes ini akan disaksikan di seluruh dunia dan seluruh dunia akan menjadikan Indonesia sebagai model negara muslim moderat yang mendukung kontes pamer aurat.

Bisa kita bayangkan efek kerusakan yang ditimbulkan kontes ini akan jauh lebih besar dibandingkan secuil manfaat yang bisa diterima dunia pariwisata dan UKM dari bisnis souvenir, penginapan, dan lainnya. Dalam islam pun tak dibenarkan melakukan aktifitas maksiat, meski ada manfaat yang diperoleh. Misalnya pekerjaan sebagai model yang menampakkan aurat tak dibenarkan dalam Islam, meski bisa mendatangkan materi. Lagi pula seharusnya pemerintah mampu menggelorakan pariwisata dan UKM dengan jalan yang lebih bermoral dan beradab, bukan dengan membuka tangan terhadap kontes kemaksiatan.

Esensi kontes Miss World yang bertujuan mengeksploitasi tubuh perempuan dan merendahkan harkat kaum hawa membuatnya harus ditolak, meski kali ini tanpa bikini. Meski dijanjikan lebih sopan, peduli pada masyarakat dengan aktifitas sosial, akan meningkatkan pendapatan di sektor pariwisata serta UKM dan iming-iming lainnya. Semua itu tak membuatnya layak untuk mendapatkan tempat di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini.

Tapi sayang seribu sayang, pemerintah yang seharusnya melindungi masyarakat dari masuknya budaya merusak semacam Miss World justru berdiri paling depan untuk mendukung perhelatan tersebut. Menjadi semakin jelaslah ideologi kapitalisme yang diusung pemerintah negeri ini. Halal dan haram tak lagi menjadi penting, yang penting adalah manfaat dan materi.

Hanya jika kaum muslim hidup dalam naungan Khilafah yang menerapkan seluruh hukum syariat Islam secara kaffah lah yang akan melindungi kemuliaan kaum perempuan seutuhnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah al-Mu’tashim billah yang memimpin pasukan untuk menaklukkan Amuria hanya karena dilecehkannya kehormatan seorang muslimah oleh pasukan Romawi. Subhanallah, kita rindu seorang pemimpin seperti itu. Wallahu’alam bish shawab. (*)

Editor: Asri


Penulis : Warta Timur
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com