Jum'at, 21 September 2018

Cerita Sejarah Sop Konro Menurut Dispar Makassar

2 bulan yang lalu | 8:50 am
Cerita Sejarah Sop Konro Menurut Dispar Makassar

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (11/6/2018) – Kementerian Pariwisata RI pun ikut menetapkan 10 ikon kuliner di Makassar. Salah satu makanan itu adalah Sop Konro sebagai makanan khas Makassar.

Terkait dengan Sop Konro, Dinas Pariwisata Makassar berbagi cerita tentang sejarah Sop Konro.

Kabid Destinasi Pariwisata Makassar Andi Karunrung mengatakan sejak dulu, Sop Konro merupakan hidangan wajib warga saat ada hajatan, baik pernikahan, dan khitanan, atau pesta adat.

Dimana ada ritual, warga memotong kerbau yang kemudian mengambil bagian tulangnya lalu dimasak dengan bumbu yang sederhana atau biasa disebut dengan pallu konro atau pallu buku (buku = tulang).

Proses pembuatan kuah pallu konro yang khas terletak pada kacang merah (campe’) yang dimasak hingga lunak lalu dihaluskan kemudian dicampurkan ke dalam kuah.

Bahan inilah yang membuat kuah pallu konro menjadi agak kental dan khas.

Selain campe’, penambahan ketumbar memperkuat rasa dan keluak yang bertujuan memberikan warna pada kuah pallu konro yang diadopsi dari bumbu masakan pallu kaloa’.

Bedanya, pada pallu kaloa’ tidak menggunakan kayu manis, cengkeh, dan adas.

Proses memasak konro dilakukan dengan cermat. Pertama air di didihkan, lalu tulang konro dimasukkan hingga mendidih kembali kemudian air ini dibuang seluruhnya.

Sementara itu, di panci yang lain telah dididihkan pula air dan inilah yang akan digunakan untuk seterusnya memasak tulang konro bersama dengan bumbu-bumbunya.

“Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan tulang dari sisa-sisa kotoran pada saat pemotongan, menghilangkan lemak, dan menghilangkan bau amis,” ujarnya.

Daging sapi populer di Makassar awal tahun 90-an. Dulunya, masyarakat Makassar lebih mengenal daging kerbau dalam membuat makanan berkuah yang berbahan dasar daging seperti coto dan pallubasa.

Namun, dengan populasi kerbau yang sulit menyebabkan harga lebih mahal sehingga pedagang beralih ke daging sapi yang populasinya lebih banyak sehingga mudah didapatkan dan harga lebih terjangkau. (*)


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com