Minggu, 12 Juli 2020

Catatan Hidayat Lamakarate ; Millennial Bisa Apa?

5 bulan yang lalu | 7:34 am
Catatan Hidayat Lamakarate ; Millennial Bisa Apa?

Baca juga

 

Mendapatkan kiriman foto dari Adik-Adik millennial, lengkap dengan caption singkat seperti diatas adalah hal yang membahagiakan. Walau terkadang, masih banyak kelompok yang sering menyepelekan suara dan pendapat mereka.

Saya masih sering mendengar, sebahagian kelompok orang tua masih suka bilang begini ; domo raepe, da ngana kodi (jangan dengar masih anak kecil).

Cara berpikir seperti ini, adalah cara berpikir yang kurang tepat menurut saya. Karena jika melihat realitas saat ini, Menteri Pendidikan Nasional Nadiem Makarim saja masih berusia 35 tahun. Saya sendiri, ketika diangkat menjadi Sekertaris provinsi Sulawesi tengah berumur 46 tahun.

Artinya, usia muda bukan alasan dan hambatan bagi kita untuk bersuara, berkiprah dan berbuat. Apalagi pada tahun 2030 indonesia akan akan mengalami bonus demografi dimana jumlah populasi usia produktif (15-64 tahun) akan mencapai 64 % dari total penduduk indonesia.

Kini di Sulawesi tengah jumlah kelompok millennial dari data berbagai sumber, sudah mencapai 24 %, artinya 3 dari 10 penduduk sulteng adalah kalangan millennial. Sebuah jumlah yang sangat menentukan masa depan daerah kita saat ini dan akan datang.

Kita harus serius mendengarkan suara mereka, karena mereka adalah generasi yang paling paham konteks zaman kekinian. Untuk itu, tugas kita bersama adalah mempersiapkan generasi Sulawesi tengah untuk menyambut bonus demografi yang 10 tahun lagi segera datang.

Caranya bagaimana? Pertama, kita mesti membenahi Pendidikan anak-anak kita dengan fokus pada Pendidikan vokasi. Sehingga ketika  bonus demografi 10 tahun lagi itu datang, anak-anak sulteng adalah generasi yang unggul dengan skill dan kompetensi yang siap dengan kebutuhan zaman.

Kedua, pemerintah dan sektor swasta harus berani menghadirkan pusat kreativitas dan inovasi yang dilengkapi oleh jaringan internet, outdoor working space serta berbagai fasilitas yang menunjang kebutuhan aktivitas generasi millennial saat ini. Karena lewat kreativitas, saya percaya gerakan entrepreneur bisa berkembang baik, apalagi kini kita sedang menghadapi pertumbuhan ekonomi digital.

Ketiga, saya percaya ungkapan lama, ‘setiap zaman punya orang, setiap orang punya zaman’. Karena itu, sudah waktunya kita menyerahkan urusan daerah, birokrasi, bisnis dan semua hal pada mereka yang sesuai dengan konteks zaman mereka sendiri. Namun, dengan kerendahan hati, kita mesti tetap belajar dari pengalaman mereka yang lebih senior.

Akhirnya, lewat foto yang dikirimkan kepada saya oleh adik-adik millennial itu saya dibawa pada ingatan tentang Bung Karno, “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”                                                                                    

                                                                                               


Penulis : ABR
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com