Jum'at, 21 September 2018

BEM FISIP UNHAS Bongkar Tabir Gender dan Seksualitas

1 minggu yang lalu | 7:11 pm
BEM FISIP UNHAS Bongkar Tabir Gender dan Seksualitas

Baca Juga

MAKASSAR,WARTATIMUR.COM- Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Unhas menyelenggarakan bazar diskusi bertajuk Gender dan Seksualitas dibawah naungan divisi Kajian Strategis pada hari Senin (10/09) bertempat di kafe kampus kedua.

Acara yang dimulai tepat pukul 20.00 WITA ini berhasil mendudukkan beberapa pembicara dari berbagai latar belakang bidang ilmu, diantaranya Ilham Dani (Sosiologi), Rahmat Hidayat (Antropologi), dan Aminah Fathuddin (Human Ilmuniation), dibawah arahan Ona Mariani (Politik) sebagai moderator diskusi.

“ Sebenarnya kalau melihat konteks Indonesia yang plural, tidak bisa juga kita simpulkan bahwa budaya Indonesia itu bersumber pada sesuatu yang patriarkis, karena patriarki sendiri itu istilah barat yang kemudian diadopsi oleh Indonesia yang budayanya beragam, bisa saja patriarki bagi kita namun belum tentu itu patriarki bagi mereka, karena tidak menutup kemungkinan itu sebuah penghormatan bagi kaum perempuan di wilayah tertentu“ ulas Rahmat di sela-sela diskusi.

Rahmat juga menjelskan beberapa adat istiadat yang dijalankan oleh suku-suku tertentu untuk menentukan seorang perempuan atau laki-laki dikatakan dewasa, serta bagaimana kemudian pernikahan pada budaya bugis-makassar memandang terkait seksualitas dan gender

Selain melihat sisi antropologi budaya, diskusi kali ini juga melihat konstruksi gender dari kacamata sosiologi keluarga, bagaimana kemudian pola asuh mempengaruhi sikap seseorang dan orientasi seksualnua ketika dewasa
“Seperti apa yang dikatakan Simone de Buvoir dalam bukunya Second Seks, kita dapat melihat bagaimana kemudian perempuan dianggap sesuatu yang liyan karena diciptakan dari tulang rusuk seorang laki-laki, bukan melaui proses dilahirkan seperti laki-laki” tukas Ilham Dani di tengah-tengah diskusi

Alumni mahasiswa Sosiologi Unhas ini juga mengatakan bahwa dirinya adalah seseorang yang tidak menyepakati bila LGBT di legalkan di Indonesia karena norma budaya Indonesia yang tak sesuai dengan apa yang dianut oleh barat khusunya kebebasan seperti apa yang dikosepkan oleh para kaum feminis selama ini.

Selanjutnya adalah praktik diskriminasi gender berbasis agama yang disinggung oleh Aminah Fathuddin dari Human Ilumination yang mana menurutnya kalangan feminis pada era postfeminisme ini sering menggunakan ayat-ayat suci untuk menyerang norma-norma yang ada di agama yang diasumsikan sebagai sesuatu yang mendiskriminasikan perempuan.

“Kita perlu mewaspadi di era perang wacana semacam ini, bahwa agama bisa saja dijadikan alat untuk melegalkan sebuah kebebasan atau bahkan diputarbalikkan menjadi sesuatu yang mengungkung diri perempuan dalam meraih kebebasannya di ranah publik” tukas perempuan alumni UIN Alauddin tersebut.


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com