Minggu, 23 April 2017

BBM dan Jerit Buruh Harian

2 tahun yang lalu | 7:21 am
BBM dan Jerit Buruh Harian

Baca Juga

Oleh: Andi Iqbal (Peneliti Muda Indonesia Development Engineering Consultan)

Hari itu adalah hari Minggu. Seperti sebelumnya, itu adalah hari yang selalu kami nanti. Betapa tidak, hari itu adalah saat dimana upah hasil cucuran keringat kami dibagikan. Namun Minggu itu jauh berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya; sebelum ‘Mas Joko’ membacakan harga terbaru Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Upah yang kami terima di hari Minggu kali itu berubah. Nominalnya memang masih sama, hanya saja daya belinya yang jauh menurun. Jika di hari-hari kemarin upah itu masih cukup untuk menghidupi keluarga kami selama 6 hari, maka kini upah itu hanya mampu membuat kami bertahan selamah 4 hari.

Senin (18/11/2014) lalu, Jokowi dengan relax dan lugas mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 8.500 per liter, naik Rp 2000 dari harga sebelumnya Rp 6.500/ per liter. Keputusan ‘Presiden Tiga Kartu Sakti’ itu seolah mencekik leher kami. Sesaat setelah pengumuman keramat itu dibacakan, harga kebutuhan pokok juga ikut melonjak. Meski BI memprediksi inflasi 2015 7,5% dan ADB memprediksi inflasi 2015 6,9%, namun entah megnapa fakta lapangan sepertinya tak menuruti prediksi dua institusi ekonomi itu.

Sekilas bagi mereka yang berpunya kenaikan harga BBM sebesar Rp 2000 tak begitu berdampak bagi stabilitas hidup mereka, tapi bagi kami yang upahnya tak beriringan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok jelas harus meringis setengah mati.

Hitung-hitungan ekonom boleh saja berkata laju inflasi akan tetap moderat meski harga BBM dinaikkan (selentur rahang mereka ketika menyebut angka kemiskinan di Indonesia terus turun). Hanya saja, psikologi rakyat Indonesia yang paranoid terhadap kenaikan harga tak pernah sejalan dengan prediksi ekonomi.

Rakyat kita adalah rakyat kaget; cenderung panik dan cepat merespon keputusan pencabutan subsidi. Variabel itu jelas tak masuk dalam hitungan ekonomi. Harga membumbung tinggi, meleset dari prediksi. Pakar ekonomi, Kwik Kian Gie, dalam sebuah wawancara televisi pernah menyebut inflasi di Indonesia selalu jauh melampaui prediksi pemerintah.

Negeri Wayang

Suatu ketika di sebuah warung kopi kecil di Makassar, seorang pelajar SMA pernah berceloteh, “Apakah negeri ini dikontrol oleh satu orang saja? Siapa dalangnya? Jokowikah, atau dia hanya wayang yang dimainkan si Dalang?”

Celoteh itu wajar. Negeri ini memang seolah diatur kemauan satu orang, persis dalam pementasan wayang orang. Di tengah hingar pesta demokrasi bertajuk “kemenangan rakyat”, tiba-tiba saja wacana kenaikan BBM mencuat. Dalihnya defisit APBN atau subsidi tak tepat sasaran. Ada juga yang bilang untuk menerabas mafia minyak. Katanya, subsidi BBM harus dialihkan ke sektor yang lebih produktif seperti infrastruktur yang menunjang pertumbuhan ekonomi, kendati pembangunan infrastruktur yang dimaksud adala MP3EI yang memanjakan investor kelas kakap, bukan rakyat yang makannya ikan teri.

Pemerintah tak pernah transparan dalam hitung-hitungan ekonomi yang dijadikan dasar menaikkan harga BBM. Jerit rakyat kecil tak pernah didengar, apalagi dihitung. Mereka cukup jadi penonton, menikmati pementasan seadanya. Padahal sesuai konstitusi, mereka adalah pemegang kedaulatan tertinggi. Arah pembangunan harus menurut pada kemauan dan kebutuhan mereka.

Protes pun dicekal. Aksi penolakan kenaikan BBM dilabeli anarkis dan merusak kepentingan publik (entah publik yang mana yang dimaksud). Mereka yang berjuang di garis depan menolak kekuasaan yang menindas dipukul mundur dengan pentungan. Darah mereka bercucuran, bahkan nyawa melayang. Kamis (27/11/2014) kemarin, Ari (17 tahun) harus meregang nyawa karena menolak patuh pada kekuasaan. Sekali lagi, itu tak masuk dalam hitungan ekonomi pemerintah. (*)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com