Rabu, 18 Juli 2018

Bagaimana Menikmati Makassar dalam 24 Jam? Ini Tipsnya

3 tahun yang lalu | 4:12 pm
Bagaimana Menikmati Makassar dalam 24 Jam? Ini Tipsnya

Baca Juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM (2/5/2015) – Dua jam pertama di pagi hari bisa Anda habiskan dengan berjalan-jalan di sekitar Pantai Losari. Menikmati siraman matahari dengan latar depan laut biru yang membentang sejauh mata memandang. Sesekali ada perahu nelayan yang melintas, di kejauhanpun ada pulau-pulau kecil yang seperti disebar begitu saja oleh Sang Maha Pencipta.

Pagi hari di Pantai Losari selalu menyenangkan karena relatif lebih sepi dari para wisatawan. Anda bisa berkeliling sepuasnya seakan-akan anjungan itu memang hanya dibuat untuk Anda. Kalau perut lapar, silakan menikmati beragam sajian kuliner yang ada di sekitar Pantai Losari. Harganya tidak sampai Rp. 10.000,- untuk seporsi soto atau makanan lainnya.

Kalau mau bersusah payah sedikit Anda bisa berjalan terus ke arah Utara sampai ke Jl. Riburane. Carilah warung Nasi Kuning Riburane yang sudah melegenda. Nasi kuning memang bukan khas Makassar, tapi warung yang satu itu sudah terlanjur akrab dengan kota Makassar. Siapkan minimal Rp. 25.000,- untuk seporsi nasi kuning a la Makassar.

Selanjutnya, Makassar tanpa mencicipi air lautnya rasanya agak kurang pas. Tujuan selanjutnya disarankan adalah pulau Samalona. Pulau ini terletak sekira 30 menit perjalanan dengan perahu bermotor dari pelabuhan di depan Fort Rotterdam atau di Kayu Bangkoa tak jauh dari Pantai Losari. Sayangnya, tidak ada pelayaran regular ke pulau itu. Jadi Anda harus menyewa perahu senilai Rp. 400.000,- pergi-pulang. Memang berat kalau ditanggung sendirian, cobalah mencari teman jalan yang mungkin sama-sama punya keinginan yang sama ke pulau Samalona.

Meski agak mahal, pulau Samalona memang menjanjikan buat mereka yang senang pasir, pantai dan angin laut.

Setelah kembali menginjakkan kaki di daratan Makassar, saatnya untuk mengisi perut Anda dengan makan siang. Makassar terkenal dengan makanan serba dagingnya plus sajian hasil laut yang melimpah. Ada dua jenis makanan yang bisa dipilih untuk makan siang tak jauh dari garis pantai. Pertama, konro. Anda bisa menikmati Konro Karebosi yang warungnya terletak sekira 1 km dari arah utara garis pantai, tepatnya di Jl. Gunung Lompobattang.

Atau Anda mau menikmati coto? Silakan ke Jl. Ranggong Daeng Romo yang juga tak jauh dari tepi pantai. Ada Coto Ranggong yang juga terkenal dan sudah jadi legenda di kota ini. Kedua tempat itu bisa dijangkau dengan jalan kaki, naik ojek atau menumpang taksi.

Di sore hari, Anda bisa mengunjungi Fort Rotterdam, benteng tua peninggalan masa kolonial yang berdiri tegak tak jauh dari bibir pantai. Di sana Anda bisa masuk ke museum yang menyajikan sejarah singkat kota Makassar dan kerajaan Gowa serta budayanya. Tetaplah di sana menikmati suasana benteng yang teduh dan kadang ramai oleh warga di sore hari.

Menjelang matahari terbenam naiklah ke dinding benteng yang menghadap langsung ke arah Barat. Di sana Anda bisa menikmati matahari yang beranjak pulang sampai benteng benar-benar ditutup untuk umum.

Ketika malam tiba saatnya beranjak dari Fort Rotterdam dan bergerak ke arah Selatan, ke Jalan Somba Opu untuk mencari buah tangan sebelum meninggalkan Makassar keesokan harinya. Cukup dengan berjalan kaki sekira 300 meter Anda sudah berada di jalan yang berisi begitu banyak toko penjual cinderamata dan ole-ole.

Selesai belanja di Jl. Somba Opu Anda bisa terus ke Selatan menghabiskan malam di anjungan Pantai Losari. Cukuplah mengganjal perut dengan sepiring pisang epe, sajian khas yang sangat mudah ditemui di Pantai Losari. Mungkin anjungan Pantai Losari akan sedikit ramai di malam hari, jadi disarankan mencari spot yang pas dan nyaman untuk menikmati sepiring pisang epe.

Setelah sepiring pisang epe tandas, Anda bisa tetap berjalan menyusuri Pantai Losari melihat dan merasakan denyut kota yang masih menggelora di malam hari. Jangan lupa untuk mengambil gambar, sebagai kenang-kenangan tentu saja.

Kalau sudah capek menyisir Pantai Losari dan perut mulai lapar maka itu tandanya Anda sudah berus bergeser ke Jl. Datu Museng untuk menikmati olahan laut khas kota Makassar. Ada banyak warung olahan laut di jalan itu.

Selepas makan Anda bisa kembali ke penginapan dengan hati riang, perut kenyang dan mungkin dompet yang sedikit meriang. Jangan hanya berhenti di 24 jam! Kembalilah ke Makassar kapan saja. (*)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com