Jum'at, 15 Desember 2017

Aksi Ricuh di Unhas, Mahasiswa Curiga Ada Provokator

3 tahun yang lalu | 4:12 am
Aksi Ricuh di Unhas, Mahasiswa Curiga Ada Provokator

Baca juga

MAKASSAR, WARTATIMUR.COM – Gabungan ratusan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin (Unhas), STIMIK Dipanegara, dan STIMIK Akba, menggelar aksi besar-besaran menolak kenaikan harga BBM bersubsidi, Selasa (18/11).

Sebelumnya, Presiden Jokowi pada Senin (17/11) malam mengumumkan harga baru BBM subesidi sebesar 8000 rupiah per liter, naik 2000 rupiah dari harga sebelumnya 6.500 rupiah per liter.

Aksi unjuk rasa tersebut awalnya berlangsung damai. Aksi yang dimulai pukul 15.30 sore itu hanya diikuti oleh puluhan mahasiswa. Aksi terus berlangsung hingga maghrib. Mahasiswa juga sempat melaksanakan sholat maghrib berjamaah di lokasi aksi.

Selepas maghrib, ratusan mahasiswa lainnya mulai berdatangan ke titik aksi. Kericuhan bermula saat sekelompok orang tak dikenal mulai melempari mahasiswa aksi dengan batu dan bom Molotov. Kelompok tersebut juga memprovokasi pengguna jalan untuk melawan mahasiswa.

Kuat dugaan kelompok tersebut merupakan massa bayaran oknum tertentu. Pasalnya mereka dilengkapi alat “perang” seperti petasan roket dan dua buah lampu sorot yang benrilai mahal. Mereka juga sempat melemparkan dua bom asap berwarna merah menyala yang biasa digunakan untuk panggilan SOS.

“Mahal sekali harganya itu, tidak tau siapami yang beli begitu untuk perang ini,” ungkap salah satu warga yang di sekitar lokasi aksi.

Sekitar pukul 21.00 wita, kelompok massa yang tambah beringas mulai merangsek masuk ke dalam area pintu I kampus Unhas setelah berhasil memukul mundur mahasiswa yang jumlahnya kalah banyak. Dalam bentrokan ini, kedua kubu menggunakan senjata ketapel busur dan bom molotov. Sedikitnya tiga korban luka dilarikan ke rumah sakit Dr Wahidin Sudirohusoso.

Kelompok brutal ini kemudian merusak pos satpam Unhas, membakar puluhan sepeda motor mahasiswa yang terparkir di sekitar pintu I dan kawasan masjid Kampus Unhas. Selain membakar motor, massa juga merusak pagar besi, membakar pos satpam Unhas dan belasan unit sepeda yang diparkir di depan kandang rusa.

Bentrok berlangsung hingga pukul 23.00 Wita. Dari penuturan seorang warga, polisi hanya mendiamkan aksi brutal kelompok massa ini. Rektor Unhas, Prof. Dwie Ariestina, juga tampak sibuk menelpon Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Anton Setiadi, untuk mengamankan bentrok. “Tidak diangkat dari tadi,” ungkapnya.

Di tengah bentrok, mahasiswa mengkap oknum yang tergabung dalam massa aksi yang kedapatan membawa senjata tajam busur. Disinyalir, oknum itu adalah preman sewaan yang bertugas memprovokasi mahasiswa untuk bertindak anarkis.
Pasalnya ketika diinterogasi, keduanya mengaku sebagai mahasiswa Unhas, namun belakangan diketahui mereka adalah warga yang tinggal di sekitar wilayah jalan Bung dan Perumahan Dosen Tamalanrea.

“Mereka sepertinya preman yang disewa sama polisi, supaya kita terpancing untuk anarkis, supaya polisi juga punya alasan untuk membubarkan mahasiswa yang aksi,” ungkap salah satu mahasiswa aksi saat ditemui di lokasi.

Pukul 23.30, sebanyak lima truk anggota TNI bersenjata tongkat besi tiba di lokasi kejadian. Bentrok pun mulai mereda. Puluhan TNI ini juga terlihat mengamankan SPBU di pintu 1 Unhas. Hingga pagi tadi Rabu (19/11) anggota TNI masih terlihat membersihakan puing-puing sisa bentrok. TNI juga menyiapkan 2 mobil panzer di depan pintu 1 Unhas untuk mengantisipasi bentrok susulan.

Akibat bentrok semalam, pihak kampus Unhas meliburkan aktivitas perkuliahan selama tiga hari melalui Surat edaran resmi dari Rektorat Unhas ditandatangani Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof Junaedi Muhidong. Dalam surat tersebut tertulis pengumuman libur mulai Rabu (19/11) hingga Jumat (21/11).

“Seluruh mahasiswa dilarang beraktifitas di dalam kampus selama masa libur, adapun dosen dan karyawan tetap diharuskan masuk kerja,” ujar Junaedi. (NM)


Penulis : Nafli Mas'ud
Editor : Nafli Mas'ud
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com