Minggu, 23 April 2017

8 Catatan IDEC jelang Pilkada serentak 2015

2 tahun yang lalu | 8:48 am

Baca Juga

Indonesia Development Engineering Consultant (IDEC) merilis 8 catatan jelang pemilihan serentak putaran pertama desember 2015. Berikut delapan catatan IDEC yang penting di perhatikan oleh para kandidat dan juga penyelenggara pemilu, utamanya bagi beberapa daerah di sulawesi selatan, sulawesi tengah, dan barat  yang akan menggelar pilkada serentak desember 2015 mendatang.

1. Pilkada serentak desember 2015, kemungkinan besar akan menguntungkan kandidat petahana yang akan maju kembali. Lamanya tarik menarik jadwal kepastian pelaksanaan pilkada serentak oleh pemerintah, telah membuat kandidat penantang akan kesulitan waktu untuk melakukan sosialisasi termasuk menggalang relawan. Utamanya bagi incumbent yang memiliki trend elektabilitas 32-42 % akan memiliki potensi kemenangan yang lebih dibandingkan kandidat lain.

2.Minat calon kepala daerah penantang akan semakin rendah, apalagi dengan adanya pembatasan bagi PNS karir untuk maju menjadi calon kepala daerah setelah pemberlakuan undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN)

3.Potensi dukungan kepada kandidat baru dengan isu perubahan hanya akan terjadi didaerah yang kepala daerahnya sudah dua kali menjabat, apalagi pasca disahkanya undang-undang kepala daerah yang mengatur politik dinasti.

4.Efek deparpolisasi akan semakin besar apalagi partai ID di indonesia hanya berkisar diangka 20 %, karena itu kemungkinan besar parpol akan berkerumun pada kandidat incumbent yang memiliki kemampuan melakukan mobilisasi politik dan memegang struktur pemerintahan yang pasti dibandingkan kandidat penantang.

5. Isue kekecewaan pada rezim yang menawarkan perubahan, sebagaimana fenomena kebangkitan relawan yang dibawa oleh Jokowi akan memiliki efek domino kepada pemilih dan membuat pemilih cenderung skeptis pada kandidat baru dengan alasan Jangan coba-coba!

6. Konflik partai besar seperti GOLKAR dan PPP sedikit banyak akan mempengaruhi konsolidasi dukungan bagi kader untuk di usung menjadi kepala daerah dan membuat kader partai cenderung berhati-hati untuk mengajukan diri sebagai calon.

7. Partisipasi politik dengan semakin sedikitnya calon akan semakin rendah, apalagi disulawesi selatan partisipasi politik digerakan oleh ; aspek hubungan kultural, jejaring kekeluargaan, mobilisasi mekanistik, diskursus wacana media antara kandidat petahana dan penantang.

8. Pembatasan alat peraga dan mekanisme sosialisasi yang diserahkan sepenuhnya kepada KPU akan menjadi salah satu kelemahan bagi penantang terkait dengan kesiapan mereka maju menjadi calon.


Penulis : ABR
Editor : ABR
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com