Selasa, 20 November 2018

Selamatkan Cagar Budaya Lokal Indonesia!

4 tahun yang lalu | 3:14 am
Selamatkan Cagar Budaya Lokal Indonesia!

Baca Juga

Oleh: Haeruddin Syams Masagenae (Penggiat LSM Sempugi)

Bhineka Tunggal Ika merupakan slogan pemersatu keberagaman suku, bahasa, dan budaya lokal Indonesia sekitar 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010. Atas dasar inilah, hingga saat ini saya masih bias dalam memahami nasionalisme. Pasalnya, pada dasarnya keberagaman tersebut tidak bisa terwakili oleh sebuah simbol.

Setiap elemen masyarakat pun menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda, mulai dari sepak bola, selebriti, politikus menjadi simbol alternatif untuk membakar semangat nasionalisme sampai primordialisme yang biasanya digunakan politisi partai pada saat kampanye. Sebenarnya sederhana saja. Cukup dengan memberdayakan budaya lokal sebagai bagian dari eksistensi Bhineka tunggal ika.

Meski di satu sisi tidak lepas dari sejumlah kepentingan, namun lembaga/korporasi internasional ternyata lebih memilki ketertarikan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Terbukti, beberapa lembaga donor internasional yang memiliki program penelitian tentang kebudayaan lokal Indonesia rela menggelontorkan dana hingga ratusan miliar rupiah. Program penelitian lembaga asing tersebut jelas dapat membantu mempertahankan eksistensi budaya Indonesia di mata dunia.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah anggaran pemerintah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melebihi anggaran korporasi internasional untuk melestarikan budaya lokal Indonesia? Apakah rakyat Indonesia sendiri memliki kepedulian terhadap cagar budaya lokal Indonesia?

Kekhawatiran besar kita, jangan sampai bangsa lain yang memiliki perhatian lebih terhadap keberagaman itu dibandingkan dengan pemerintah dan masyarakat bangsa ini. Tak heran jika kemudian banyak ditemukan buku hasil penelitian etnografi budaya Indonesia yang ditulis oleh orang asing. Tidak malukah kita ketika orang asing yang menjelaskan apa yang kita miliki?

Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya yang disahkan oleh Presiden ditetapkan di Jakarta pada tanggal 24 November 2010, merupakan salah satu langkah pemerintah untuk menyelamatkan beberapa cagar budaya lokal yang kondisinya sangat memprihatinkan, dengan membuatkan aturan hukum dalam perawatan dan pelestariannya. Undang-undang ini memiliki peran yang sangat penting untuk melindungi cagar budaya lokal yang merupakan peninggalan sejarah dan sebagai bukti peradaban Indonesia.

Di satu sisi, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan undang-undang tersebut, karena Cagar Budaya harus didaftarkan oleh masyarakat yang kemudian akan ditindak lanjuti oleh tim ahli yang dibentuk oleh pemerintah agar terdaftar dalam Situs Cagar Budaya Nasiaonal. Secara tidak lansung pemerintah dalam melindungi cagar budaya juga melakukan filterisasi, karena dalam undang-undang tersebut terdapat kriteria-kriteria yang harus dipenuhi agar cagar budaya itu bisa terdaftar sebagai cagar budaya Indonesia.

Kondisi beberapa makam Raja (karaeng/datu/addatuang/Arung) di Sulawesi Selatan yang tidak terdaftar di dinas kebudayaan sebagai cagar budaya Indonesia yang sempat saya datangi, sangat memprihatinkan. Terlihat jelas bahwa makam tersebut tidak pernah diperhatikan. Ironisnya, beberapa makam tidak terindentifikasi, padahal jika melihat secara historis mereka adalah pemimpin-pemimpin yang turut andil membangun peradaban di jazirah Sulawesi.

Belum lagi benda-benda pusaka peninggalan kerajaan diperjualbelikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Situs-situs bersejarah juga dihancurkan untuk membuat bangunan-bangunan megah milik para kapitalis dengan alasan menjadikan Indonesia sebagai negara modern dengan menjadikan negara barat sebagai percontohan.

Sederhananya, yang ingin saya sampaikan adalah kalau bukan kita sebagai masyarakat Indonesia yang menjaga cagar budaya lokal Indonesia, siapa lagi.? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Mari, kita selamatkan Cagar Budaya Lokal Indonesia. (*)


Penulis : Asri Abdullah
Editor : Asri Abdullah
Copyright © 2013 Warta Timur, All Rights Reserved. Jalan Politeknik, Makassar .
Design by Wartatimur.com